Jumat, 29 Februari 2008

Good To Great


Oleh : Ippho Santosa - Pembicara seminar, Produser Andalus, dan Penulis Qalbu Marketing

"Tulislah hukum-hukum. Tetapi, izinkan saya menulis lagu. Pastilah kelak saya akan memerintah negara Anda." Itulah pendapat Andrew Fletcher -seorang patriot Skotlandia- pada tahun 1702. Ucapan provokatif ini menjadi salah satu pemicu dan pemacu mengapa saya gemar menciptakan lagu. Sudah belasan lagu yang saya dan grup musik CELEBrand hasilkan. Ternyata, berdasarkan hasil survey, mayoritas responden memuji lagu kami. Kata mereka, sudah cukup oke.

Namun, bagi kami itu bukan jawaban yang memuaskan. Sebenarnya, kami mengharapkan responden berseru, "Wah, ini lagu yang luar biasa!" Berhubung tidak ada yang berkata begitu, maka lagu-lagu itu pun kami rombak. Bahkan, liriknya kami perkaya -tidak semata-mata berbahasa Indonesia dan Inggris- tetapi juga berbahasa Mandarin, Jepang dan Perancis. Itu semua kami tekuni selama kurang-lebih tujuh tahun, hanya semata-mata untuk mempersembahkan tembang yang great, bukan sekedar good.

Jim Collins di buku terlarisnya Good to Great sempat berujar, "Baik (good) adalah musuhnya hebat (great)." Artinya, apabila kita ingin hebat (great), maka kita tidak boleh merasa sudah cukup baik (good). Begitu kita merasa sudah cukup baik, biasanya kita akan enggan untuk memperbaiki diri. Dengan kata lain, merasa sudah cukup baik bisa meninabobokan kita, sehingga kita tak akan pernah menjadi hebat.

Tengoklah pelawak tenar Charlie Caplin dan megabintang Michael Jackson! Di masa keemasan mereka, Charlie dan Michael masih mau berlatih setiap hari! Betul-betul setiap hari! Luar biasa 'kan?

Hal ini juga diteladani oleh almarhum ayah saya, yang merupakan pemain badminton yang gigih semasa hidupnya. Ada atau tidak ada pertandingan, dia tetap saja berlatih secara konsisten dan telaten. Alasannya, demi prestasi yang lebih bagus. Baginya, tampil cukup baik (good) sama sekali tidak memadai. Di usianya yang sudah setengah abad, ia selalu berusaha untuk tampil hebat (great).

Apalagi ada kutipan yang mengingatkan, "Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung." Kalau sama saja? Dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk? Dia adalah orang yang celaka.

Ironisnya, betapa banyak perusahaan yang merasa dirinya 'baik-baik saja' dan malas beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi. Ketika disarankan program atau strategi yang baru yang lebih masuk akal, mereka buru-buru berdalih, "Hm, program itu bagus, sih. Tetapi -maaf- selama ini kita sudah diakui sebagai market leader, kok," atau, "Ah, kita tidak memerlukan program seperti itu. Kita 'kan sudah punya nama besar," atau, "Wah, kita agak berbeda, ya. Terus-terang, kita sudah cukup kuat kok, dengan dukungan dari pusat."

Hei, bolehkah berargumen seperti itu? Boleh-boleh saja, asalkan market Anda memenuhi dua kondisi. Pertama, pelanggan Anda begitu bodoh. Kedua, pesaing Anda berjalan di tempat. Namun adakah market seperti itu? Di planet ini, sepengetahuan saya, tidak ada!

Resapilah pesan resi manajemen Gede Prama, "Saat Anda merasa seperti mangga yang telah masak, maka sebentar lagi Anda akan membusuk! Jadilah mangga yang masih mentah, sehingga Anda senantiasa mematangkan diri." Coba saja baca buku BREAK! Rumus Marketing yang Belum Diajarkan di Kelas MBA, yang kebetulan direkomendasikan oleh guru kegagalan Billi Lim.

Pernah mendengar istilah kaizen 'kan? Sekedar mengulang, kaizen dalam bahasa Jepang bermaksud penyempurnaan terus-menerus (continuous improvement). Dan sejarah membuktikan, istilah inilah yang mengantarkan Jepang dari negara keterbelakang menjadi salah satu negara penentu di muka bumi ini.

Padahal, pada tahun 1600-an Jepang di bawah pemerintahan Shogun Tokugawa masih disibukkan dengan pengusiran warga asing dan pengisolasian negara selama 240 tahun ke depan. Sementara pada masa yang sama, masyarakat Amerika telah mengenal istilah 'pelanggan'. Bisa disebut, dari segi pengetahuan mengenai market, Jepang memang tertinggal jauh oleh Amerika. Begitu?

Dulu, memang seperti itu! Tetapi, di akhir abad 20 Jepang mulai berbenah. Dengan semangat kaizen-nya, tanpa tedeng aling-aling mereka pun mulai menohok Amerika. Terbukti, produk-produk dari Negeri Sakura layak disejajarkan dengan produk-produk dari Negeri Paman Sam.

Persis seperti yang ditegaskan motivator ternama Zig Ziglar, "Dengan selalu mempersembahkan usaha terbaik Anda, maka itu akan menjadikan Anda seorang pemenang." Bukankah pepatah Cina juga mengisyaratkan, tetesan air sekalipun -asalkan berterusan- dapat mengikis batu. Demikianlah, penyempurnaan tiada henti merupakan syarat mutlak untuk bertahta dan terus bertahta di market. Bercita-citalah untuk menjadi great, bukan sekedar good!

Ditulis oleh Ippho Santosa yang dikenal sebagai marketer, trainer dan penulis bestseller. Untuk konsultasi, SMS penulis 0812-704-9090.

Sepatu Si Bapak Tua

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=158185&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=213
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''
Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.
Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.
Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.
Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak: ''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu Engkau hanya memegangnya sebentar Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akanterbelenggu olehnya.Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengantanganmu seperti engkau menggenggam air.Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.
Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan SDM, penulis buku You Are A Leader!
faksimile: 021-7983623

Semangkuk bakmi panas

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesansemangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.

“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”


Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begituberterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.


Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

=================================================

RENUNGAN:
Bagaimanapun kita tidak boleh melupakan jasa orang tua kita.
Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja.
Tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah yang paling berharga yang diberikan kepada kita sejak lahir.
Pikirkanlah hal itu??
Apakah kita mau menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita?


Awalnya Selalu bukan Uang

Oleh: Rhenald Kasali

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.

KONTAN, Nomor 50/V Tanggal 10 September 2001

Life is beautiful

Sebuah cerita tentang hidup dari negeri India....

Saya pikir, hidup ini kayaknya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! 'Kerja menyebalkan', hidup tak berguna', dan nggak ada sesuatu yang beres!! banyak masalah...

Tapi semua itu berubah... sejak kemarin... Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!!!

Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, iamelihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!

Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong?

Ternyata tidak..!!! Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat..MENGEMIS...!! Ibu itu sengaja menyebabkan an aknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan !! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu... mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari.

Kemudian ia pun berangkatkembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!!

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $0,25!! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi,punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!!

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!!

Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR??? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??*

La in Syakartum la-aziidannakum
(jika kalian bersyukur ,niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS. 14 ; 7)

Wa maa bikummin nimatin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun
(Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu...)


PS. kita tidak akan pernah merasa cukup bila kita terus melihat keatas.

"*Life is Beautiful *"


Air Mata Mutiara...

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata,
"Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
=================================================
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".


Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".


Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.


Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.


Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar Anda. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hati Anda "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga........




Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua daan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu.
"Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.



http://www.geocities.com/big_bang_inspiration/index.htm?200829

Kamis, 28 Februari 2008

Pandailah Bersyukur

Allah menjanjikan bahwa orang yang tidak mau bersyukur, maka nikmatnya akan berubah menjadi adzab yang pedih, minimal akan hilang ketentraman di hatinya.

Misalkan hidung kita oleh Allah 'di setting' tidak begitu mancung, tapi kita membandingkannya dengan yang mancung-mancung. Saat becermin kan jadi tertekan, "Ini hidung atau kutil?" Padahal Allah yang menciptakan, pasti sarat dengan hikmah. Punya hidung mancung juga kalau ujub malah jadi pamer, dipotret jadi miring terus. Kalau tidak berusaha mensyukuri yang ada, punya apa saja nggak akan nikmat.

Misalnya ada gelas berisi air setengah. Kalau ahli syukur, "alhamdulillah masih ada setengahnya." Tapi yang kufur nikmat, "Hah! Tinggal setengahnya!" Ini nggak enak, itu nggak enak. Tentu saja Allah murka sehingga menutup pintu rezeki lainnya. Sebaliknya, kalau bersyukur, maka akan mengundang pintu-pintu nikmatlainnya.

Misalnya istri sedang ngidam, kita mencari mangga ke sana sini nggak ketemu. Tiba-tiba lewat tukang mangga. "Ya Allah Engkau mudahkan dia datang, tidak perlu bayar parkir dan bensin." "Berapa ini Bang?" tanya kita. "Enam ribu" kata abang penjual mangga. Lalu kita bilang "Sepuluh ribu, ya?" Nah, itu bersyukur.

Tapi kalau, "Dua ribu saja ya!?" Itu zalim, betapa sudah diberi kemudahan oleh Allah dengan didatangkan tukang penjual mangga yang dengan susah payah dia memikulnya, sudah berat, panas, masih ditawar pula oleh kita. Bukankah setiap kemudahan itu datangnya dari Allah. Kalau tidak bersyukur, maka itulah yang akan menimbulkan fitnah dan masalah. mq

Ubah Dulu Yang Di Dalam

http://www.cybermq.com/index.php?kolom/detail/3/378/kolom-378.html

Oleh : Andrie Wongso

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan untuk memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesannya melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak di pasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan. Apa daya, setelah diperbaiki hingga ke tiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!


Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu, setelah bertukar sapa dengan akrab dengan tuan rumah, tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?" "Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter obyek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan bu?" Tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.


"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya", si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.


Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.


Pembaca yang budiman,

Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita rubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.


Dengan merubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi diluar juga ikut berubah.


Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan dengan merubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima perubahan dengan cara merubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.


Salam sukses luar biasa!!!

Andrie Wongso

Memberi, Bukan Menerima

Kita harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Suatu ketika sepasang suami istri yang baru dikarunia seorang anak terlibat percakapan. Sang istri berkata, "Abi, alhamdulillah ya Allah mengabulkan doa kita. Sekarang kita sudah punya rumah sendiri, padahal sebelumnya Ummi sempat bertanya-tanya bisa nggak ya kita punya rumah?".
"Ya, kita harus bersyukur. Hidup kita selalu dimudahkan Allah," ujar sang suami mengamini. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi ingat bahwa rumah ini bukan milik kita, juga bukan milik anak kita. Semua ini hanyalah titipan Allah".

"Ya, saya ngerti. Tapi apa maksud Abi bahwa rumah ini bukan milik anak kita? Bukankah nanti akan diwariskan pada anak-anak kita?" tanya istri tersebut.
Suami itu menjawab, "Abi sangat tidak setuju bila kamu berpikiran seperti itu. Abi ingin rumah ini nanti dimiliki oleh mereka yang membutuhkan, anak-anak yatim atau orang yang tidak punya lainnya".
Dengan terkejut si istri menyela, "Lho, kok bisa begitu. Bagaimana dengan anak-anak kita?".

"Begini Ummi, kita harus menanamkan sikap mandiri dan mau berbagi kepada anak kita. Kalau dari sekarang kita sudah memanjakannya atau menjanjikan bahwa kalau sudah dewasa ia tak perlu susah-susah bikin rumah karena akan dapat "warisan", maka ia tidak akan mau bekerja keras apalagi berbagi. Kita harus menanamkan kepada dia bahwa rumah ini adalah milik umat, dia tidak berhak memilikinya. Karena itu, dia harus kaya, harus mampu membangun rumah sendiri, syukur-syukur mampu membangunkan rumah bagi orang lain. Sekali-kali jangan kita tanamkan kebiasaan meminta, tapi tanamkanlah kebiasaan memberi," ungkap si Abi dengan bersemangat.

Ada satu pelajaran penting dari kisah di atas, kita -- terutama yang telah berkeluarga -- harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan yang sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Paradigma berpikir seperti ini harus mulai kita tanamkan, baik dalam diri sendiri, pasangan hidup, maupun anak-anak. Ya, memberi -- apalagi bila dilandasi keikhlasan -- adalah perilaku yang teramat mulia. Bahkan, Rasulullah SAW memberi julukan "khairunnaas; manusia terbaik" kepada orang yang selalu memberi dan tak pernah menjadi beban bagi orang lain. Beliau bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain".

Konsekuensi dari paradigma ini adalah "sebelum kita dapat memberi, kita harus memiliki sesuatu untuk diberikan, dan untuk dapat memiliki sesuatu itu, kita harus mengusahakannya". Jadi ada rangkaian turunan dari paradigma memberi ini. Kita sulit untuk bersedekah (uang) bila kita tidak memiliki uang untuk disedekahkan. Untuk mendapatkan uang kita harus mengusahakannya. Kita pun sulit membagikan ilmu kepada banyak orang, bila kita tidak memiliki ilmu tersebut. Ilmu itu sendiri akan kita dapatkan bila kita mau berikhtiar mencarinya.

Demikianlah, saat kita menginginkan anak-anak kita menjadi manusia terbaik, yang lebih suka memberi daripada menerima, maka kita (orang tua) harus mengisi jiwanya dengan benih-benih kebaikan. Diharapkan benih-benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya bisa dinikmati banyak orang. Ketika orang tua menginginkan anaknya mampu beramal dengan ilmunya, maka orang tua harus menanamkan cinta ilmu kepadanya. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi seorang dermawan, maka bentuklah mereka sebagai seorang yang "pandai" mencari uang dan tidak pelit. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi penyebar kebaikan, maka isilah jiwanya dengan akhlak mulia.

Sekali lagi, semua ini tidak akan pernah mengena sebelum orang tua mengisi jiwanya terlebih dulu dengan nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain harus ada teladan, baik dalam pola pikir maupun dalam tindakan. Teladan ini teramat penting dalam keluarga, karena orang tua adalah model pertama dan utama bagi anak. Ketika Albert Schweitzer ditanya tentang bagaimana mengembangkan anak, dia menjawab: "Ada tiga prinsip. Pertama teladan. Kedua teladan. Dan ketiga teladan".


Makna Sebuah Doa

Suatu waktu ada sebuah pesawat tempur dengan 2 (dua) orang pilot yang sedang terbang di atas laut tiba-tiba saja mengalami kerusakan mesin. Secara cepat pilot kemudian berupaya mencari pulau terdekat untuk mendaratkan pesawat tersebut. Akhirnya dengan susah payah, pesawat tersebut berhasil mendarat di laut dan kedua pilot berenanglah menyelamatkan diri menuju pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Kedua pilot yang selamat tersebut tak tahu apa yang harus dilakukan karena seluruh peralatan yang ada telah rusak terendam air. Namun keduanya yakin dan percaya bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Allah. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling ‘makbul’ (dikabulkan), kemudian mereka sepakat untuk untuk saling berpisah menjauh menuju sisi-sisi pulau yang saling berseberangan.

Setelah beberapa hari menunggu di sisi-sisi pulau yang saling berjauhan dan menunggu bantuan atau tim penolong tiba, mereka mulai merasakan lapar dan haus yang amat sangat. Kemudian pilot pertama mulai berdoa agar ia diberikan makanan. Tanpa disangka keesokan harinya, begitu pilot pertama bangun ia telah mendapatkan sebuah pohon yang penuh dengan buah. Tetapi, nun jauh disisi pulau yang lain pilot kedua tidak merasakan hal tersebut.

Setelah mengetahui bahwa Allah maha mengabulkan, kemudian pilot pertama mulai berdoa memohon untuk diberikan makanan, pakaian, rumah dan segala macam yang ia butuhkan. Keesokan harinya, seperti ada keajaiban saja, maka semua yang ia minta telah tersedia dihadapnya. Sedangkan pilot yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, dengan sangat khusyu bercampur haru pilot pertama mulai berdoa agar ia diselamatkan dari pulau tersebut untuk dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Pagi harinya ia telah mendapatkan sebuah sampan tertambat di sisi pantai, lengkap dengan perbekalannya.

Segera saja pilot pertama segera naik ke atas sampan dan bersiap-siap berlayar untuk meninggalkan pulau tersebut. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan temannya (pilot kedua) di pulau tersebut.

Menurut pilot pertama, memang temannya tersebut (pilot kedua) tidak pantas menerima pemberian Allah, karena doa-doanya tidak pernah dikalbulkan. Begitu pilot pertama hendak berangkat, ia mendengar suara menggema dari langit. "Wahai pilot pertama, mengapa engkau tega meninggalkan temanmu di pulau ini?". Kemudian pilot pertama menjawab, "Berkah-Mu hanyalah untukku, ya Maha Agung, karena hanya doakulah yang Engkau kabulkan. Doa-doa temanku itu tidak pernah Engkau kabulkan, maka ia tidak pantas untuk mendapatkan apa-apa".

Kemudian pilot pertama kembali berujar, "Katakanlah ya Allah, doa macam apa yang ia panjatkan kepada-Mu, sehingga aku harus berbagi keberkahan dan ridho-Mu atas semua ini kepadanya?". Kemudian terdengar suara menggema, "Teman mu, hanya berdoa agar semua doa mu dikabulkan".

Moral Story :
Kesombongan dan keserakahan macam apakah yang menjadikan kita menganggap bahwa hanya doa-doa kita yang terkabulkan oleh-Nya?. Tak selayaknyakah kita mengabaikan peran orang lain, yang selalu dengan ikhlas berdoa untuk kesuksesan kita?


PRIMAL LEADERSHIP: Leading With Emotional Intellegence

Oleh: Antonio Dio Martin
"Because emotions are `contagious', particularly in a group in the workplace or in the government, emotions spread most powerfully from the leader outward, and a leader is in an optimal position to drive the emotional tenor." (Daniel Goleman)
Ada sebuah kisah kepemimpinan yang menarik. Sewaktu Alexanders Agung mencoba menaklukkan dunia, berkali-kali ia dan tentaranya harus melewati gurun pasir yang tandus dan gersang.
Suatu ketika, berhari-hari ia dan tentaranya berjalan melewati gurun dengan panas yang terik. Persediaan air mereka habis. Tentara kahausan dan beberapa diantaranya tak sanggup melanjutkan dan mati. Beberapa tentara mencoba berinisiatif mencari air, akhirnya dikumpulkanlah sisa air yang kurang lebih hanya ada secangkir.
Karena mencintai Alexander, mereka memberikannya kepada `Sang Agung' supaya tetap selamat. Ketika diberikannya kepada Alexander, air itu dibuangnya ke atas pasir. Lantas, Alexander Agung berkata, "Air ini tidak akan cukup untuk kita semua. Mari kita bersama lanjutkan perjalanan ini. Bersama-sama, kita akan melewati kesulitan ini".
Wow! Sebuah kepemimpinan yang –tidaklah mengherankan— menyebabkan anak buahnya rela `mati' bersama dengannya. Kualitas kepemimpinan seperti Alexander Agung inilah yang secara khusus kita kategorikan sebagai bentuk kepemimpinan yang disebut Primal Leadership. Istilah ini diinspirasikan dari buku best seller karya Daniel Goleman bersama dua rekannya, Richard Botayzis serta Annie McKee. Daniel Goleman.
Dalam buku tentang Primal Leadership ini, kembali Daniel Goleman mengangkat tema kepemimpinan yang memiliki "hati". Memang, dalam banyak ilustrasi antara "hati" dengan "otak" seringkali digambarkan sebagai burung dengan kedua sayapnya. Antara sayap "otak" dengan sayap "hati" dibutuhkan kerjasamanya agar seekor burung bisa terbang dengan seimbang.
Mengapa disebut sebagai "Primal Leadership"? Primal berasal dari kata "prima" atau utama. Dalam pola kepemimpinan Primal Leadership, hati dipercaya lebih banyak berpengaruh daripada otak atau logika. Sebagaimana dikatakan seorang pujangga Inggris, "Tanganmu tidak mampu meraih apa yang tidak diinginkan hatimu". Lagipula, kita menyaksikan bahwa banyak pemimpin diteladani, diikuti dan menjadi inspirasi oleh karena "hatinya" yang merakyat, mengerti dan mengayomi. Sebaliknya, para pemimpin yang cuma berkata-kata tetapi dalam hatinya tidak memiliki rasa solidaritas, keinginan memahami dan berbela rasa, akhirnya akan ditinggalkan.
Kisah Maria Antonnette dijaman revolusi Perancis adalah kisah seorang ratu yang hidupnya berakhir tragis. Saat dihukum pancung dengan pisau Gillottine, tidak ada satu rakyat Perancispun yang meratapinya karena selama ikut memerintah, ia dianggap sangat tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat dan tidak pernah peduli. Kita juga masih bisa mengingatkan berderet pemimpin yang berakhir dengan tragis karena keangkuhan, kesombongan, egoisme serta ketidakpeduliannya pada orang yang dipimpinnya.
Keangkuhan Musolini di Italia misalnya, akhirnya dibayar dengan hukuman gantung baginya. Rakyat, bawahan, pengikut, akan mendambakan memiliki seorang pemimpin yang mau mengerti dan berbela rasa kepada mereka.
Bangsa kita sendiri pernah memiliki pemimpin sejati seperti jendral Sudirman yang dalam kondisi sakit, masih tetap bergerilya. Para prajurit dan rakyat, mencintainya.
Kualitas dan kompetensi kepemimpinan yang memahami kondisi anak buahnya, seringkali disebut dengan kualitas kepemimpinan yang `beresonansi'. Kata `resonansi' sendiri, diambil dari istilah ilmu Fisika yang secara umum berarti, "ikut bergetar karena yang adanya sesuatu yang sedang bergetar". Idealnya, seorang pemimpin yang beresonansi adalah pemimpin yang dapat turut merasakan `getaran' perasaan, kepahitan serta jeritan "hati" anak buahnya.
Salah satu contoh cerita menarik adalah kisah di perusahaan SoundView saat masih dipimpin oleh Mark Loehr. Setelah kejadian tragis 11 September di WTC, banyak karyawannya yang berduka. Untuk itu, Mark Loehr secara khusus memberikan waktunya yang berharga untuk mendengarkan sharing perasaan karyawannya dan setiap malam jam 21.45, Mark Loehr mengirimkan email pribadi yang tujuannya memberikan dukungan moral bagi anak buahnya.
Dan untuk lebih konkritnya, Mark Loehr bahkan memutuskan untuk mengumpulkan profit perusahaan satu hari yang diperuntukkan bagi karyawan yang terkena musibah. Pada hari yang ditentukan tersebut, mereka bahkan berhasil mengumpulkan 6 juta dollar, padahal biasanya profit mereka cuma setengah atau 1 juta dollar saja! Para karyawan bahkan customer, begitu bersimpati dengan apa yang dilakukan oleh SoundView. Mengenai pemimpin yang demikian tersebut ini, Mark Loehr pernah mengatakan, "Dalam kondisi kritis, semua orang berpaling kepada pemimpin untuk mendapatkan support emosional. Pastikan, jika Anda seorang pemimpin, Anda memberikannya pada saat-saat kritis seperti itu".
Lantas, bagaimanakah membangun kompetensi Primal Leadership ini? Untuk membangun kompetensi kepemimpinan yang "Primal" ini ada beberapa tahapan yang penting. Terkait dengan EQ, ditekankan mengenai 4 tangga EQ menuju puncak Primal Leadership:
1. SELF AWARENESS
Tahapan ini merupakan elemen dasar bagi Kepemimpinan berdasarkan EQ. Penyadaran perasaan sendiri adalah kunci penyadaran bagi perasaan orang lain. McDonald, misalnya memiliki tradisi bahwa seorang pemimpin mestinya ikut merasakan menjadi janitor dan pembersih, dengan demikian ketika seseorang memimpin suatu cabang McDonald maka ia bisa turut merasakan bagaimana kesulitan, masalah dan beban pekerjaan seorang yang berada di level bawah seperti janitor. Disini kita melihat bahwa, kesadaran diri adalah awal bagi penyadaran keadaan orang lain. Banyak organisasi yang paham, bahwa untuk membangun seorang pemimpin yang baik, dibutuhkan pemimpin yang dapat memahami dan sadar dengan situasi anak buahnya. Tidak ada cara lain selain mencoba berlaku dalam posisi "anak buah itu sendiri". Seringkali dikatakan, seorang pemimpin yang mendapatkan kuasanya dengan cara mudah, tidak pernah turut menderita akhirnya akan mudah main perintah, seenaknya dan mudah memanipulasi diri yang seiring berjalannya waktu akan ditinggalkan oleh anak buahnya atau malah dilecehkan.
2. EMOTIONAL MANAGEMENT
Setelah menyadari, tugas seorang pemimpin adalah bagaimana ia mengontrol dan mengendalikan perasaannya. Ada saat-saat tertentu dimana seorang pemimpin akan mengalami banyak problem, kesulitan maupun stress akibat pekerjaan maupun akibat ulah anak buahnya. Pada saat-saat kritis dan sulit, seorang pemimpin ditantang untuk tetap berpikir jernih dan tidak kehilangan kendali atas emosinya. Seorang pemimpin akan kehilangan respek serta dicap dengan berbagai hal yang negatif tatkala kehilangan control atas emosinya. Mungkin masih segar dalam ingatan kita saat misalnya salah seorang Menteri dalam kabinet Megawati, kehilangan kontrol emosi dan mulai meledak-ledak dalam satu acara diskusi di suatu stasiun TV swasta. Bisa dibayangkan bagaimana image yang mungkin timbul atas Menteri ini pada jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikannya.
3. EMOTIONAL CONNECTION
Setelah sanggup mengendalikan dirinya, seorang pemimpin pun dituntut untuk mampu berelasi baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Berelasi berarti berinteraksi agar mampu menghasilkan suatu tindakan yang positif. Agar berhasil, seorang yang baik harus mampu berempati, tahu kapan harus melakukan persuasi maupun kapan harus memberikan dorongan serta lebih banyak mendengarkan orang lain. Salah satu contoh permasalahan yang menarik adalah kisah yang dikutip oleh Daniel Goleman mengenai kejadian yang pernah dialami oleh salah satu divisi siaran di BBC yang harus ditutup oleh manajemennya. Saat itu, salah seorang pemimpinnya, tatkala mengumumkan penutupan divisi tersebut justru membangga-banggakan divisi siaran perusahaan lain yang baru dikunjunginya dan bernada arogan. Akibatnya, justru karyawan BBC yang ditutup memberikan reaksi perlawanan dan ketidaksenangannya karena ulah pimpinan tersebut. Dalam hal berelasi dengan orang lain, seorang pemimpin memahami bahwa apapun kata-kata maupun tindakannya akan berdampak besar kepada bawahannya. Karena itu, seorang pemimpin dengan level emotional connection yang baik, tahu apa perbedaan antara ditakuti serta dihargai. Para pemimpin yang efektif ini, mengerti bahwa untuk dihargai, tidaklah selalu harus ditakuti. Mereka tidak khawatir menunjukkan persaaan-perasaan mereka, tetapi justru dengan demikian mereka dipuja, dihargai dan sekaligus dicintai. Herb Kelleher, mantan CEO Southwest Airlines yang terkenal `koboi' adalah contoh profil CEO dengan level emotional connection yang tinggi.
4. PERSONAL LEADERSHIP
Tahapan ini merupakan tahapan kepemimpinan berlandaskan emosional tertinggi dimana seorang pemimpin mulai menggerakkan anak buahnya, memimpin tim, memberdayagunakan sumber daya kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam personal leadership inilah terletak style kepemimpinan yang dibangun. Style kepemimpinan ini bisa beragam bentuknya. Akan tetapi apapun style yang ditampilkan, mereka tetap memiliki kedekatan emosi yang baik dengan bawahannya. Sebagai contohnya dari seorang Walt Disney yang visioner, Bill Gates yang style-nya blak-blakan serta Jack Welch dari GE, yang sering dicap otoriter, semuanya menunjukkan pengalaman dimana mereka memiliki kualitas perhatian serta kedekatan emosional dengan bawahannya secara mendalam.
Dengan demikian, kita melihat bahwa Primal Leadership bukanlah suatu style leadership tertentu, tetapi merupakan suatu persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap leader, apapun style yang diterapkan. Sebagaimana dikatakan oleh John Maxwell, maha guru "ledership" saat ini, "Satu-satunya cara seorang pemimpin membangun karisma adalah dengan mengambil hati bawahannya dan menaruhnya di level terdepan dalam hatinya".
Para pemimpin dengan jiwa kompetensi Primal Leadership ini, akhirnyalah yang sungguh akan dicintai. Ibarat perkawinan, dengan kemampuan seorang pemimpin untuk bisa merasakan apa yang dirasakan anak buahnya, mereka akhirnya akan tetap dicintai dalam kondisi suka maupun duka.
====================================================
Artikal ini saya dapat dari mailing list "PROGRAM KELAS KARYAWAN - UNIVERSITAS MERCU BUANA"

Mengapa (Harus) Membatasi Karyawan Menggunakan Internet?

http://www.portalhr.com/kolom/2id130.html

Oleh: Meisia Chandra

Internet saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup sebagian orang. Sebagian besar perusahaan telah menyediakan fasilitas internet kepada karyawannya, yang tujuannya tentu saja untuk mendukung pekerjaan. Namun, dengan kekayaan yang bisa ditawarkan internet --mulai dari email, mailing list, chatting, belanja, berita, edukasi, hiburan, games, blogging, hingga perjudian dan pornografi-- muncul keraguan yang cukup beralasan, benarkah penggunaan internet di kantor hanya untuk tujuan pekerjaan?


HR Magazine edisi Desember 2007 melaporkan temuan IDC Research di Amerika bahwa 30 hingga 40% penggunaan internet di kantor tidak berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan, Websense Inc memperkirakan cost yang diderita setiap tahun karena hilangnya produktivitas itu mencapai 63 miliar dolar AS. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya menduga, kondisinya tidak jauh berbeda.


Karena berhubungan dengan produktivitas karyawan, sudah saatnya penggunaan internet menjadi perhatian HR. Apa yang bisa dilakukan HR dalam menyiasati hal ini? Pembatasan penggunaan internet adalah jawaban yang paling mudah. Dari pengamatan saya, itu pula yang banyak diterapkan oleh HR kita, atau lebih tepatnya oleh bagian IT, karena pengaturan penggunaan internet di perusahaan biasanya di bawah divisi IT.


Pembatasan penggunaan internet karyawan oleh IT biasanya didasarkan pada penghematan bandwith atau biaya koneksi internet yang harus dibayar oleh perusahaan. Yang dilakukan biasanya adalah pemblokiran situs-situs tertentu yang dianggap tidak ada hubungannya dengan pekerjaan seperti Friendster, Facebook, dan Blogger. Namun, benarkah membatasi penggunaan internet merupakan solusi cepat yang paling tepat?


HR Magazine menyarankan, daripada memblokir begitu saja akses internet, perusahaan bisa menggunakan beberapa software yang lebih pintar. Sekarang sudah ada software yang bisa membatasi waktu surfing karyawan per hari tidak lebih dari 30 menit untuk situs-situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Ada juga software yang hanya membolehkan karyawan mengakses situs-situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan di luar jam kerja. Selain itu, bisa juga perusahaan menerapkan akses internet yang customized, yaitu disesuaikan dengan bidang pekerjaan masing-masing. Misalnya, bagian accounting hanya mengakses situs-situs yang berhubungan dengan accounting saja.


Apa pun langkah yang Anda terapkan, yang jelas Anda harus mempunyai alasan yang tepat untuk menerapkannya. Apabila produktivitas yang menjadi masalahnya, maka harus diukur apakah dengan pembatasan penggunaan internet, produktivitas karyawan benar-benar meningkat. Saya mengenal banyak teman yang mempunyai akses internet secara bebas di kantornya tapi (tetap) sangat produktif. Bahkan, ada yang nyaris sama sekali tidak tergoda untuk berinternet-ria dan hanya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan. Dengan kata lain, tanpa dibatasi pun, seseorang yang memiliki banyak pekerjaan, tidak mungkin masih sempat melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya itu.


Sampai di sini, timbul pikiran dalam benak saya, jangan-jangan kantor-kantor yang membatasi penggunaan internet karena takut produktivitas karyawan turun, sebenarnya tidak mempunyai cukup (banyak) pekerjaan untuk karyawan mereka. Jika produktivitas yang dikhawatirkan, maka buatlah perangkat untuk mengukur produktivitas dan kinerja yang diharapkan. Jika produktivitas karyawan menurun, cobalah dicari penyebabnya. Belum tentu karena pemakaian internet. Dengan pembagian waktu dan pemberian target yang tepat, akan semakin sedikit peluang karyawan untuk menyalahgunakan penggunaan internet untuk kepentingan pribadi.


Pembatasan penggunaan internet belum tentu efektif meningkatkan produktivitas, malah bisa jadi menyebabkan produktivitas menurun.
Karyawan sebagai manusia yang berkehendak bebas cenderung tidak menyukai pembatasan.
Selain itu, pembatasan bisa diartikan, perusahaan tidak mempercayai karyawannya.
Sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab, karyawan bisa menentukan sendiri mana yang harus dan tidak harus dilakukan pada jam kerja.
Jika tujuannya penghematan (biaya koneksi) maka pembatasan tidak perlu berhubungan dengan situs tertentu, melainkan dengan penggunaan bandwith.


Jadi, apa pun langkah yang diusulkan HR kita, yang penting bukan karena ikut-ikutan atau karena kekhawatiran yang berlebihan. Usulan HR kita adalah usulan yang strategis untuk mendukung kemajuan bisnis.


(Penulis adalah pemimpin redaksi portalhr.com)

Etika Berbisnis Yang Berkah


1. Sedikit Untung Banyak Laku

Saudaraku yang budiman, bisnis yang berkah dapat diawali dengan sedikit untung banyak laku. Setiap orang tentunya ingin mendapat keuntungan. Artinya, dalam bisnis selain kita sebagai produsen, konsumen juga ingin meraih keuntungan. Karenanya, bisnis yang paling menguntungkan dalam Islam adalah bisnis yang membuat semakin banyak orang yang merasa diuntungkan.

Jikalau kita serakah karena ingin untung besar sendiri, maka jangan heran bila kerugian yang malah kita peroleh. Memang, bisa jadi pertamanya merasa untung, namun sesudah itu orang akan merasa terkecoh. Sehingga tidak ada yang ingin bertransaksi lagi dengannya. Tidak cuma itu, mereka pun bisa saja menyampaikan penyesalan dan keluhannya kepada orang lain sehingga kredibilitas kita semakin berkurang. Selanjutnya, kita tinggal menunggu waktu bangkrut saja.

Oleh karenanya, mari kita mulai menikmati keberuntungan orang lain sebagai satu keuntungan kita. Ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT dengan merasa nikmat jika kita melihat orang lain mendapatkan barang yang baik dengan harga yang murah.

2. Mudah dan Menyenangkan

Jangan pernah mempersulit dan memperumit orang lain ketika bertransaksi, padahal kita bisa dengan mudah menyelesaikannya. Percayalah, orang yang suka mempersulit orang lain hidupnya akan selalu dirundung kesulitan pula. Buatlah suasana yang mudah dan menyenangkan dalam setiap transaksi bisnis yang kita lakukan. Sehingga jadi atau tidak, transaksi yang dilakukan selalu meninggalkan kesan kebaikan yang tergambar pada kedua belah pihak.

3. Jujur

Kejujuran adalah harga mati yang harus dilakukan seseorang yang ingin usahanya berkah. Kejujuran adalah harga diri, kehormatan, dan kemuliaan bagi siapa pun yang berpegang teguh kepadanya. Sebaliknya, tipu daya, licik, bohong hanya untuk hancurkan kredibilitas perusahaan kita. Akibatnya, bukan kehormatan dan kemuliaan yang didapat, tetapi kehinaan dan kesengsaraan yang diraih.

4. Tepat Janji

Janji adalah utang. Tidak ada kata lain bagi yang ingin bisnisnya berkah, selain harus sekuat-kuatnya menepati janji, dalam sesulit dan serumit apapun kondisi yang sedang terjadi.

Karenanya, hitunglah dengan secermat-cermatnya setiap janji yang terucap, apakah memang benar kita mampu memenuhinya atau tidak? Lebih baik mengatakan tidak sanggup dari pada berjanji menyanggupi order padahal kita merasa tidak mungkin dapat menyelesaikannya. Akan tetapi, bila janji sudah terucap di bibir, berjuanglah sekuat-kuatnya untuk menunaikannya.

5. Amanah

Amanah adalah salah satu dari sifat-sifat mulia yang perlu diterapkan dalam transaksi bisnis yang kita lakukan. Tidak ada yang lebih terhormat dari sifat-sifat mulia lainnya, selain dari menunaikan amanah. Dikisahkan ketika Allah memberikan amanah kepada gunung, laut, pepohonan, dan makhluk lainnya, ternyata semuanya menolak. Akan tetapi ada makhluk Allah yang menerimanya, dialah manusia. Karenanya suatu kehormatan besar jikalau kita mampu menunaikan amanah yang kita terima, begitu pula dalam urusan bisnis.

6. Bertabur Zikir dan Doa

Lakukanlah aktivitas bisnis dengan tetap mengingat Allah. Dengan banyak berzikir kepada Allah, niscaya transaksi bisnis apa pun yang kita lakukan akan jauh lebih bermakna.
Tidak sekedar pertukaran uang dan barangsaja, tetapi ada yang lebih dari semua itu, yaitu aktivitas bisnis kita menjadi bagian dari zikir (pengingat) kepada Allah. Karenanya sangat dianjurkan bila mengawali suatu transaksi, ucapkanlah basmalah dan mengakhirinya dengan ucapan hamdalah.

Buah dari bertaburnya zikir dalam bisnis akan menjadi semacam rem dalam perilaku bisnis yang kita lakukan sehingga sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak akan ada kemaksiatan, kezaliman, dan aneka perbuatan mungkar lainnya.

Taburkan pula aneka macam bait doa. Yakinlah, doa adalah senjata orang beriman dan pengubah takdir.
Dengan doa kita bisa meminta takdir terbaik bagi diri dan bisnis yang kita lakukan karena hanya Dia-lah yang Maha Tahu siapa sebenarnya relasi bisnis kita dan kualitas yang ditransaksikannya. Doa akan membukakan jalan kemudahan, jalan pertolongan, dan jalan kebaikan kepada kita. Tentu saja bukan hanya doa dari pemilik perusahaan dan keluarganya, tetapi semua karyawan, keluarganya, dan siapapun yang berkaitan dengan lembaga bisnis kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa demi kemajuan perusahaan.

7. Sedekah Melimpah

Sedekah adalah penolak bala dan pelipat ganda rezeki. Karenanya bersedekah adalah hal yang sangat dianjurkan. Tentunya, setelah yang wajib-wajib, seperti zakat sudah ditunaikan.
Banyak lembaga sosial, pendidikan, dan pelayanan umat yang membutuhkan banyak bantuan dari yang memiliki harta berlebih. Tentu saja, tidak hanya pemilik perusahaan yang berzakat dan bersedekah, tetapi semua bagian yang terlibat dalam bisnis kita dianjurkan untuk melakukannnya. Dengan begitu, insya Allah bisnis kita akan lebih berkah.


From Hermawan Kartajaya book : " Aa Gym A Spiritual Marketer" hal 225-229.