Jumat, 27 Februari 2009
Beda
Dua orang pemuda sedang menggembalakan sapi mereka. Sambil menunggui sapi-sapi mereka merumput, keduanya pun berbincang-bincang di bawah pohon.
Pemuda 1 : Hm, kalau dilihat dari depan, sapi kita tidak ada bedanya yah?
Pemuda 2 : Betul juga. Jangan-jangan nanti bisa tertukar.
Pemuda 1 : Aku ada ide. Bagaimana kalau kau potong saja sebelah telinga sapimu? Jadi kita bisa bedakan.
Pemuda 2 : Ide bagus.
Akhirnya mereka memotong sebelah telinga sapi milik Pemuda 2.
Pemuda 1: Wah... akhirnya... sapi kita tidak akan pernah tertukar.
Pemuda 2: Benar. Tapi..... kalau dari belakang kok tetap sama yah?
Pemuda 1: Benar juga. Jadi bagaimana?
Pemuda 2: Begini, karena sapiku sudah dipotong telinganya, bagaimana kalau sekarang sapimu yang dipotong ekornya?
Pemuda 1: Setuju !!
Dan mereka pun memotong ekor sapi milik Pemuda 1.
Pemuda 1: Nah, akhirnya sapi kita benar-benar tidak akan pernah tertukar.
Pemuda 2: Iya. Eh, bagaimana kalau sekarang kita tes dulu. Tuh, ada anak SD lewat. Kalau anak SD saja bisa membedakan, apalagi orang dewasa kan?
Pemuda 1: Benar juga. Ayo kita panggil anak itu.
Pemuda 1: Nak, bisa tidak kau membedakan kedua sapi itu?
Anak SD : Jelas saja bisa. Yang satu warnanya putih, yang satu warnanya coklat.
???????
Oleh : Nurrahmah
http://www.andriewongso.com/awartikel-2416-AW_Jokes-Beda
Mensyukuri Perbedaan
...................
Orang yang duduk di depan itu tampak dengan berapi-api menjelaskan segala macam argumentasinya untuk mencoba memberi alasan logis atas pendapatnya. Terkadang disela kalimatnya, nada bicaranya harus meninggi. Dari rentetan kalimat yang diucapkannya, sangat terasa bahwa orang ini –sebut saja Pak Bejo-, sangat berusaha ingin meyakinkan para pendengarnya bahwa pendapatnyalah yang benar.
Ketika Pak Bejo selesai bicara panjang lebar, kemudian giliran moderator mempersilahkan seorang tua lain yang duduk di meja seberang pak Bejo –sebut saja namanya pak Untung- untuk bicara. Giliran pak Untung bicara. Tak kalah gegap gempitanya dengan pak Bejo. Dan yang menarik, semua ucapan pak Untung ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pak Bejo. Pak Untung menganggap pendapat pak Bejo salah, dan dengan sama meyakinkannya, berbekal dalil-dalil yang bersumber dari referensi yang sama dengan yang diucapkan pak Bejo sebelumnya, pak Untung seolah memberi pandangan persepsi lain atas referensi itu.
....................
Peristiwa di atas adalah salah satu acara di televisi yang menampilkan dua orang yang berdebat dari dua kubu yang berpendapat berseberangan akan suatu hal. Ditemani oleh satu orang moderator yang selalu tertib menjalankan tugasnya agar pembicaraan tidak melebar kemana-mana dan semua yang hadir di situ menghargai waktu dan tata tertib yang sudah ditentukan.
Menjelang akhir acara suasana semakin memanas. Beberapa kali diiringi tepuk riuh para penonton akan pendapat salah satu pembicara yang merasa berhasil mengemukakan pendapat yang bisa mengunci argumentasi lawannya. Bahkan beberapa kali moderator tampak kewalahan harus memotong pembicaraan, ketika pak Bejo dan pak Untuk sudah saling bantah-membantah diluar kendali atas kesempatan bicara yang diberikan moderator kepada mereka.Tak lama kemudian waktu habis.
Ditutup begitu saja. Singkat moderator hanya memberi kata perpisahan dan semuanya dikembalikan kepada penonton. Banyak orang mungkin kemudian berpendapat, betapa pak Untung dan pak Bejo ini pastilah dua orang seteru yang selalu berseberangan dalam segala hal dan setiap pertemuan. Orang kemudian membayangkan betapa tegangnya suasana setiap mereka bertemu.
Tapi anggapan itu ternyata keliru! Bersamaan dengan selesai acara di tivi itu, ‘running-text’ penanggung jawab acara mulai terlihat, kamera ternyata menangkap –atau mungkin sengaja memperlihatkan- pak Bejo dan pak Untung saling berdiri mendekat, bersalaman dengan senyum lebar, saling rangkul. Bahasa tubuh mereka begitu hangat seperti layaknya dua sahabat yang saling bertemu.
Lalu apakah adu mulut yang mereka pertontonkan sebelumnya adalah sebuah sandiwara? Bukan! Mereka adalah orang-orang terhormat yang masing-masing memiliki prinsip dan nilai yang dengan kuat mereka genggam dan harus mereka pertahankan. Tapi mereka juga orang-orang yang telah matang dan dewasa dalam melihat kehidupan, bahwa perbedaan itu sebuah keniscayaan Sang Pencipta. Sehingga sebeda apa pun kita dengan orang lain, haruslah tetap pada koridor bahwa kita akan tetap menghargainya sebagai sesama manusia.
Dalam lingkup keluarga, sebuah kumpulan manusia yang paling kecil sekalipun, pastilah suatu saat ada beda pendapat. Dengan perbedaan itulah kita seharusnya belajar untuk melihat sisi lain atas pendapat kita sendiri. Dan beda pendapat tidak seharusnya mengurangi rasa sayang antar sesama anggota keluarga.
Se-solid apa pun sebuah organisasi, secara internal pastilah pernah terjadi silang pendapat. Justru beda pendapat inilah yang seharusnya memperkaya lingkup pandang dan wawasan organisasi itu tanpa harus mengurangi rasa saling menghormati sesama anggota organisasi.
Negara kita adalah negara yang begitu banyak terdapat bermacam-ragam perbedaan. Justru itulah kekayaan dan kekuatan kita dalam kesatuan Negara ini. Sungguh saya bersyukur, dalam pembelajaran dan pendewasaan bangsa ini, acara-acara debat semacam yang saya ceritakan diatas semakin banyak digelar. Baik di tivi, radio maupun off-air. Dan orang melihat, ketika acara selesai dua pihak seperti layaknya dua teman, saling sapa, saling tersenyum, makan bersama, saling menanyakan perihal keluarga mereka.
Bersyukurlah bahwa kita manusia diciptakan berbeda, sehingga punya kesempatan untuk belajar menjadi dewasa dan mensyukuri perbedaan ini.
26 Februari 2009
Pitoyo Amrih
THE LAST LECTURE
Pernah sekali seorang dosen matematika memberikan saya sebuah rumus kehidupan, kata beliau cita-cita sama dengan harapan ditambah usaha. Artinya selama kita memiliki keinginan maka selama itupula kita wajib berusaha dan berjuang. Kadang kita menang dan mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang pula kita gagal meraih apa yang kita inginkan. Patutkah kita kecewa ? Patutkah kita marah dan menyalahkan nasib ? Atau justru menyerah dan cukup pasrah ?
Topik ini pernah saya diskusikan dengan Mpu Peniti, mentor saya. Sebagai bahan pemikiran, beliau lalu mengisahkan tentang 2 orang pendaki gunung. Yang pertama adalah pendaki gunung terkenal, ia sudah berhasil mendaki puncak gunung Everest 6 kali. Pendaki gunung kedua, kebetulan pendaki amatir yang baru pertama kali ingin mencoba mendaki gunung Everest. Suatu hari keduanya memutuskan untuk mendaki gunung Everest, yang satu dari Utara dan yang satu dari Selatan. Karena badai yang datang tiba-tiba, keduanya meninggal di pertengahan jalan.
Semua koran dan media lalu memberitakan tentang kematian pendaki yang pertama. Dan merasa kehilangan yang sangat besar. Maklum pendaki pertama memiliki reputasi segudang. Pemakamannya juga sangat meriah luar biasa. Mirip sebuah pementasan akbar. Tetapi pendaki kedua tidak ada yang memberitakan. Semata karena ia pendaki amatir yang tidak dikenal. Ia bukanlah siapa-siapa. Pemakamannya sangat sederhana. Tetapi dihadiri sejumlah kerabat dekat, dan mereka semua menangis sedih. Mereka tahu betul pendaki kedua mempersiapkan diri sungguh-sungguh selama lima tahun. Mendaki Everest adalah cita-cita terbesar miliknya.
Pendaki pertama yang telah berhasil mendaki Everest 6 kali dan sukses, melakukan pendakian ke 7 hanya karena ingin memecahkan rekor. Lalu Mpu Peniti, bertanya serius kepada saya. Manakah perjuangan dan usaha yang lebih bernilai dan berarti ? Pendaki pertama ? Atau malah pendaki yang kedua ? Saya sempat terhenyak tidak tahu jawaban yang pasti. Berhari-hari saya memikirkan jawaban dari teka-teki ini. Tidak ada satu jawaban-pun yang pas mengena dan menjawab tuntas.
Dalam perjalanan pulang dari Denver ke Jakarta, saya sempat mampir di San Francisco. Pagi itu saya membaca sebuah berita unik, yaitu sebuah orbituari tentang Prof. Randy Pausch. Kebetulan saya baru membeli buku beliau “The Last Lecture” – dan belum sempat membacanya. Prof. Randy Pausch adalah seorang profesor dibidang keilmuan komputer, yang malang terkena penyakit kanker pankreas. Universitas Carnegie Mellon tempatnya mengajar, lalu menawarkan kepada Prof. Randy untuk memberikan ‘kuliah tearkhir’. Kuliah itu dihadiri oleh 400 orang, pada September 2007. Dan di posting pula di internet, dan menjadi buah bibir yang fenomenal. Karena isinya begitu menyentuh banyak orang tentang bagaimana hidup dan mati yang sempurna.
Lalu atas desakan banyak orang, kuliah terakhirnya diminta untuk dibuku-kan. Prof. Randy lalu menyewa seorang penulis Jeffrey Zaslow dari Wall Street Journal untuk menulis bukunya. Selama 50 hari, setiap hari ketika bersepeda, Prof. Randy mendikte-kan pemikirannya lewat telpon seluler kepada Jeffrey. Dan jadilah buku dengan judul yang sama “The Last Lecture” yang terbit April 2008. Ada sebaris kalimat beliau yang sangat menyentuh hati saya : “Experience – is what you get when you didn’t get what you wanted”. Prof. Randy tidak sedikit-pun memiliki perasaan negatif tentang perjalanan hidupnya. Dan kalimat itu pula yang menjadi jawaban yang saya rasakan pas soal teka-teki Mpu Peniti. Bahwa setiap langkah yang kita ambil dalam perjalanan hidup ini, tidak ada satu-pun yang berarti gagal. Sebab sesungguhnya sukses dan gagal adalah sama-sama sebuah pengalaman. Hanya saja keduanya memang berbeda.
Malam harinya, saya ngopi bersama teman lama di Tart & Tart, sembari menikmati kue cheese-cake kesukaan saya. Ia bercerita bahwa ia hampir saja selesai membangun rumahnya. Secara getir ia menceritakan bahwa rumahnya dibangun selama hampir 4 tahun. Semata karena ia mempercayakan kontraktor pembangunan rumahnya, kepada saudara tirinya. Dan hasilnya memang amburadul. Mulanya ia kecewa luar biasa. Emosinya terkuras antara marah dan air-mata. Tetapi ia teruskan perlahan dengan selangkah demi selangkah. Di akhir ceritanya, ia betul-betul menyimpulkan bahwa yang tadinya ia anggap sebuah kegagalan total, ternyata menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Ia bergurau kepada saya, bahwa kini ia tahu caranya membangun sebuah rumah mulai dari mengurus ijin, membangun-nya, hingga memasang instalasi listrik. Persis seperti ungkapan Prof. Randy, bahwa dalam hidup ini tidak ada yang terbuang percuma dan menjadi kegagalan. Karena semuanya akan menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya.
Apapun bentuknya. Sukses dan gagal. Keduanya sama-sama pengalaman !
Memaknai Jargon ‘Take Action’
Oleh: Anang YB
Setahun lalu ada dua tetangga saya yang di PHK bersamaan. Keduanya bisa mendadak menganggur bersamaan karena memang bekerja di satu pabrik yang sama. Yang membedakan keduanyanya adalah warna seragam mereka. Tetangga yang satu kerah bajunya berwarna biru, sedangkan tetangga satunya lagi berkerah putih dan biasa terlilit dasi.
Biarpun tenggorokannya biasa terlilit dasi, tapi tetangga saya ini –saya biasa memanggilnya Pak Manuel- jauh lebih banyak bicara dibandingkan Mas Mancuk rekan sekantornya yang levelnya jauh di bawah Pak Manuel. Sayangnya, keduanya bernasib sama buruknya, yakni tak mendapat pesangon sepeser pun karena pemilik perusahaan kabur entah ke mana.
“Kini saatnya saya untuk take action,” kata Pak Manuel mantap. Saya langsung nyambung dengan perkataan dia karena saya tahu kalau Pak Manuel sudah lama ingin menjadi entrepreneur. Berulang kali hal itu dia sampaikan ke saya. Konon, ada belasan mailing list bertema bisnis dia ikuti. Benar saja, belum seminggu Pal Manuel menganggur, dia sudah meyambangi saya dengan setumpuk dokumen yang dia unduh dari internet.
“Jaman sudah berubah, Pak!” kata Pak Manuel. “Bisnis modern bisa dilaksanakan secara simple dan tak perlu modal yang besar. Yang penting positioning kita. Cukup kita pasang mata lebar-lebar dan cari tahu apa yang paling dibutuhkan masyarakat. Asal jeli, kita pasti dapat satu produk yang dijamin bakal diburu masyarakat. Saya jamin itu.”
Saya pun mengangguk-angguk. Pak Manuel lantas menunjukkan artikel tentang perjuangan pendiri Amazon dotcom, Google dan termasuk beberapa pebisnis lokal yang sukses besar setelah memanfaatkan dunia maya. Pak Manuel pun menceritakan ide bisnisnya yakni berjualan GPS (Global Postioning System). “Saya bersyukur dan berkeyakinan Indonesia tidak pernah lepas dari kemacetan di jalan raya. Ujung-ujungnya setiap orang bakal butuh piranti pemandu jalan. Jadi, sangat pas bila saya menjual GPS,” tutur Pak Manuel.
Pak manuel pun dengan penuh semangat menghabiskan waktu sebulan penuh untuk mencari agen GPS terbaik. Beberapa kali dia mencoba membuat deal dengan agen lokal namun selalu dibatalkannya. Entah karena dia anggap tidak bonafid, tidak memiliki itikat baik, dan seterusnya. Akhirnya menginjak bulan kedua, Pak Manuel pun mendapat mitra langsung dari Taiwan.
Tidak berhenti di situ, Pak Manuel pun lantas merancang website untuk usaha barunya itu. Biar pun tak punya latar belakang di bidang disain web, Pak Manuel terus asyik membuat toko online. Dicobanya menggunakan Joomla, Oscommerce hingga wordpress dengan sekian banyak plug-in pembuat toko online. Tak puas dengan itu semua, dicari dan terus dicobanya berbagai freeware yang bertebaran di internet. Suatu ketika saya bertanya mengapa dia tidak membeli disain toko online yang siap pakai? Dengan tegas dijawabnya bahwa kalau bisa membuat sendiri, mengapa juga musti mengeluarkan uang? Jawaban yang sama juga dilontarkannya ketika dia bermaksud menggunakan hosting dan nama domain gratis. Bahkan dengan bangga ditunjukkannya sekian banyak penyedia hosting gratis yang sekaligus menjanjikan bakal memberikan sekian dollar bila pemakai mampu mengajak orang lain untuk menggunakan hosting gratisan serupa.
Selama beberapa bulan tenggelam dalam keasyikan membuat toko online, membuat Pak Manuel mondar-mandir ke warnet. Kok tidak langganan internet di rumah pak? Tanya saya. Lho buat apa? Sahut dia. Efisiensi musti diterapkan sejak awal sebuah bisnis dibangun. Untuk apa saya berlangganan internet 1 GB kalau kebutuhan saya hanya beberapa megabyte? Jawab Pak Manuel yakin sekali.
Memasuki bulan keenam sejak menganggur, situs toko online Pak Manuel pun siap. Saya pikir bisnis barunya bakal segera grand opening. Nyatanya tidak. Saya perlu melengkapi toko online saya, katanya. Lagi-lagi dia menunjukkan satu tulisan yang dia comot dari internet. Semestinya sebuah toko online bisa menjadi one stop shopping, papar Pak Manuel. Pinginnya, saya akan melengkapi toko online saya dengan barang-barang selain GPS. Tak masalah, saya sudah punya nomor kontak agen alat survey, theodolith, compass, dan gadget sebangsa itu. Jadi launching situs saya –untuk sementara waktu- akan saya tunda. Tak masalah, lebih baik saya mundur satu langkah untuk membuat satu lompatan besar, betul kan? Tanya dia. Saya hanya bisa mengangguk sambil menarik napas panjang.
***
Bagaimana dengan nasib Mas Mancuk rekan sepabrik Pak Manuel yang sama-sama jadi Penganggur? Ah, kisah dia tidak begitu menarik. Yang saya dengar, sehari setelah di-PHK Mas Mancuk menjual motor bebeknya. Uang hasil penjualan motor dia belikan satu sepeda, satu buah blender, beberapa kotak Pop Ice aneka rasa dan perlengkapan membuat Pop Ice seperti gelas plastik, sedotan, agar-agar dan sebangsa itu.
Hanya dua hari Mas Mancuk menganggur. Pada hari ketiga sejak di-PHK, Mas Mancuk sudah memulai hidup baru sebagai penjual Pop Ice.
***
Satu tahun sudah terlewati sejak kedua tetangga saya itu di-PHK. Kini saya baru sadar ternyata saya terlalu menganggap remeh langkah Mas Mancuk. Jangan kaget bila warung Pop Ice Mas Mancuk makin ramai. Tak hanya satu, kini Mas Mancuk punya empat blender sekaligus. Tak hanya menjual Pop Ice, jus buah segar pun dia jual. Bila siang menjelang, pastilah warung itu menjadi ramai oleh anak-anak sekolah yang mampir untuk meneguk es sebelum pulang ke rumah. Warung Mas Mancuk pun menjual aneka kue basah, roti, dan aneka gorengan. Bahkan Mas Mancuk pun menjadi agen brownies dan roti tart. Bila pagi datang, berderet para pembuat kue menitipkan barang dagangannya pada Mas Mancuk. Hidup Mas Mancuk sudah berubah walau tidak sefantastis gambaran indah yang ditawarkan para pelaku internet marketer. Motor bebek sudah dimilikinya kembali. Anak satu-satunya pun tampak sehat dan paling hobi berkeliling dengan sepeda gunung hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya.
Oh ya, bagaimana dengan keadaan Pak Manuel sekarang? Tentu saja dia masih konsisten dengan kegiatan sehari-harinya: berbekal uang sepuluh ribu rupiah pemberian isterinya yang bekerja menjadi bidan, dia masih setia menyambangi internet dan duduk manis di sana selama dua jam!
salam,
Anang YB, Alumni workshop ”Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller batch VII”; http://www.jejakgeografer.com/
Langganan:
Komentar (Atom)