Senin, 07 April 2008

Setengah Isi Setengah Kosong

Seorang staf muda bagian promosi produk pakaian dalam wanita diminta oleh pimpinannya untuk melakukan survey pasar di lokasi suku pedalaman. Hal ini dilakukan untuk melihat kemungkinan ekspansi pasar di sana. Hari pertama berada di lokasi membuatnya frustasi karena melihat hampir semua wanita suku pedalaman ini tidak menggunakan pakaian, apalagi pakaian dalam. "Tidak mungkin melakukan ekspansi ke tempat ini!" katanya mantap, lalu ia pun pulang ke kantor pusatnya.

Si pimpinan tidak percaya dan mengirim staf muda lainnya untuk mencari pendapat kedua. Begitu tiba di lokasi, si staf muda yang kedua ini langsung terperangah menyaksikan ada banyak wanita suku pedalaman yang tidak menggunakan pakaian dalam. "Ini kesempatan emas, justru melakukan ekspansi pasar membuat mereka semakin beradab!" sergahnya dengan penuh optimisme. Ia pun segera menghubungi kantor pusatnya, menginformasikan bahwa ada ladang baru yang harus digarap.

Dua orang yang berbeda, namun dari latar belakang perusahaan yang sama dan melihat situasi yang sama, namun memiliki cara pandang yang berbeda. Satu optimis dan yang lainnya pesimis. Perubahan situasi pasar dan lingkungan bisnis membuat setiap individu meresponi dengan cara yang berbeda pula.

Mutasi yang mendadak dari kantor pusat ke daerah, terkadang memunculkan pikiran bahwa ini adalah akhir dari segala-galanya. Pengalihan tugas ke tempat atau unit kerja tertentu, terkadang membuat kita mengklaim diri sedang dibuang. Bahkan, ketika memasuki usia pension, sering direspon sebagai malapetaka yang besar, karena ada bagian dari dirinya yang telah hilang sama sekali. Pergumulan hidup apa pun yang dialami manusia (maupun perusahaan) acapkali dimaknakan sebagai sisi gelap dari perjalanan karier dan kehidupan seseorang. Padahal pepatah bijak menyebutkan, "Bukan peristiwanya yang penting, melainkan bagaimana cara kita merespons peristiwa yang terjadi tersebut yang akan menentukan kualitas diri kita."

Satu ilustrasi dalam pelatihan motivasi yang lazim sering dilakukan adalah dengan mengambil sebuah gelas yang setengahnya berisi air. Setiap orang diminta untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Sebagaian mengatakan gelas itu setengah kosong dan sebagain lagi melihat gelas tersebut setengah masih terisi. Dilihat dari 'kebenaran' berdasarkan fakta, kedua jawaban tersebut benar. Di balik itu semua yang menarik adalah cara pandangnya. Coba kita perhatikan dengan seksama, mereka yang mengatakan gelas tersebut kosong mengilustrasikan bahwa cara pandang yang pesimis, sedangkan yang melihat gelas tersebut setengah masih ada isinya, bahkan dengan semangat mengatakan, "masih ada setengah lagi, Pak!" mengiliustrasikan cara pandang yang positif (optimis).

Ilustrasi ini dapat kita rasakan sebagai contoh ketika jam kerja sudah menunjukan pukul 15.45 WIB, dan kita diminta untuk melakukan pekerjaan tertentu. Sebagian orang dapat saja mengatakan, "Ah, tanggunglah, besok saja. Sebentar lagi juga pulang!"

Sebagian lagi justru mengatakan yang sebaliknya, "Mari saya kerjakan, mumpung masih ada waktu 15 menit lagi. Besok kita punya pekerjaan lain!"

Waktunya sama, namun cara kita memandang untuk bersikap terhadap waktu yang sisa 15 menit tersebut tentu berbeda-beda.

Di lain pihak, dari sisi bisnis, tentu setiap orang pun dapat melihat dengan cara pandang yang berbeda terhadap situasi yang melanda perusahaan. Perkembangan perusahaan bisa bertahan (survive) dan bertambah (growth) atau tidak, juga bergantung bagaimana karyawan memandangnya.

Dalam kehidupan hubungan antar pegawai pun demikian. Cara kita memandang orang lain akan sangat mempengaruhi bagaimana hubungan kita dengan orang tersebut selanjutnya. Ada saja orang yang berkutat pada sisi negatif orang lain dibandingkan potensi-potensi yang masih dimilikinya. Masih ada juga segelintir orang yang lebih suka menceritakan "gelas kosong" orang lain daripada "gelas isi" dirinya. Para ahli mengatakan bahwa cara pandang ini sangat besar dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui pikiran. Baik itu melalui media bacaan, tontonan, maupun hasil perbincangan dengan orang lain, juga sistem pola asuh di rumah. Menariknya lagi, cara pandang ini tidak ada hubungannya dengan jabatan serta kekayaan seseorang. Semua hal ini semata-mata tergantung daripada kualitas mental seseorang.

Bagaimana "gelas" keluarga kita saat ini, bagaimana "gelas" perjalanan karier kita selama menatapi jalan-jalan menuju ke kantor, bagaimana pula "gelas" perusahaan dalam perkembangan terakhirnya. Semua tentu tidak ada yang penuh, dan pasti ada bagian-bagian yang kosong. Satu langkah yang penting untuk melaluinya dengan efektif adalah dengan memaknainya pada sisi yang masih terisi. Melalui pemaknaan yang demikianlah kita akan mampu berbuat kreatif dan berbuat banyak bagi perusahaan, keluarga dan diri sendiri.

John Wesley pernah bertutur, "Lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apa pun, dimana pun, kapan pun, kepada siapa pun, sampai Anda sudah tidak mampu lagi melakukannya."


By Parlindungan Marpaung dlm bukunya " Setengah Isi Setengah Kosong" hal 132-136.

Rabu, 02 April 2008

Bertindaklah Seperti Tikus

(Jangan Takut Bereksplorasi/Berexperimen dengan Hal-hal Baru)

Apakah perbedaan antara naluri Manusia dengan naluri Tikus?. Perbedaan itu digambarkan dengan jelas oleh Spencer Johnson dalam bukunya yang berjudul Who Moves My Cheese. Dalam buku tersebut, diceritakan manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terprogram oleh rutinitas. Tindakan-tindakannya dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaannya (habit). Artinya, manusia cenderung berorientasi pada masa lalu (kebiasaan-kebiasaan).


"Cheese" (keju) diartikan sebagai sesuatu yang dicari manusia. Bisa berupa kebahagiaan, makanan, rezeki, harta, atau apa saja. Maka ketika manusia menemukan sesuatu, dan ketika itu berulang-ulang selalu ada di sana, ia pun akan secara otomatis datang ke sana. Mula-mula Anda membentuk kebiasaan tapi lama-lama kebiasaan telah membentuk Anda. Tapi bagaimana bila suatu ketika "cheese" itu tiba-tiba tidak ada di sana Betul! Manusia cenderung akan komplain, berteriak meminta agar siapa saja yang mengambil mengembalikannya.


Tapi setelah berhari-hari ditunggu cheese itu tetap tidak ada lagi di sana, mereka memilih diam, mereka seakan kehabisan akal. Satu-satunya yang tersisa tinggal harapan, yaitu harapan "cheese" itu akan kembali lagi. Maka mereka pun menungu, dan menunggu, sampai mereka menjadi tua, renta, dan bodoh.


Bagaimana dengan Tikus?


Tikus selalu digambarkan sebagai hewan yang rajin dan cerdik. Ketika "cheese" itu tiba-tiba hilang, tikus tidak tinggal diam, melainkan terus bergerak tanpa pernah putus asa. Sampai suatu ketika mereka menemukan sumber baru di tempat yang sama sekali berbeda. Tikus menemukan sesuatu yang baru, karena berorientasi pada tindakan dan tidak takut bereksperimen.


Pelajaran yang bisa diambil:

Jangan putus asa, jangan biarkan diri Anda menjadi tua, renta dan bodoh dengan berorientasi pada masa lalu. Beranilah bereksperimen dan mencari cara-cara baru, dan bertindak. Manusia "tikus" adalah manusia yang tidak berdiam diri, selalu bergerak ke depan mencari cara-cara baru dan jalan-jalan baru.



Rhenald Kasali, Ph.D. dalam Bukunya "CHANGE!" hal.256-258

Selasa, 25 Maret 2008

HITAM PUTIH EVC

HITAM PUTIH ELECTRONIC VOUCHER CENTER HADIR DI SEMARANG Yang namanya telepon cellular kini bukan lagi barang mewah dan milik kalangan tertentu. Alat komunikasi yang satu ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Menyentuh segala lapisan sosial; kaya-miskin, kota-desa , tua-muda bahkan anak-anak. Menyadari posisi penting telpon selular yang demikian pegang peranan, terutama dalam mendukung dunia bisnis ataupun media komunikasi interpersonal, tentu saja tak akan berarti tanpa adanya PULSA sebagai ‘’napas’’ kehidupannya. Dan beruntunglah kalau saat ini tersedia relative banyak pilihan pulsa yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan operator cellular. Baik dengan cara berlangganan pasca bayar atau pun pra bayar memakai kartu Voucher. Pada awalnya muatan pulsa yang dikemas dalam bentuk kartu memang banyak dipilih. Selain bisa dibeli secara retail menurut jenis muatan yang dikehendaki, Voucher dalam bentuk kartu bisa dipakai kapan saja dan oleh siapa saja. Sehingga kesanya murah dan praktis. Namun dalam perkembangannya, kelebihan itulah yang justru menjadi kelemahan. Sebab, Voucher dalam bentuk kartu selain bisa hilang sehingga bisa dengan gampang dimanfaatkan oleh orang lain, pemakainnya juga memerlukan usaha khusus yakni menggosok, mengisi dan harus menunggu jawaban dari pihak operator yang bersangkutan untuk memastikan bahwa sejumlah pulsa yang diisikan dalam telepon telah diterima dan terhitung dengan baik. Hitam Putih Technologies Indonesia menawarkan pilihan lain yang relative lebih menguntungkan. Di samping juga meminimalisasi terjadinya resiko kerugian yang disebabkan oleh penggunaan Voucher kartu. Hitam Putih Elcetronic Voucher adalah perusahaan distributor Voucher elektronik untuk semua operator atau provider GSM dan CDMA di Indonesia. Dengan konsep ‘Easy Solution Concept’ perusahaan yang berkantor pusat di Semarang ini dengan cepat berkembang di Jawa Tengah. Salah satu alasan yang menurut Rudy M.Alif membuka usaha Voucher Electronic hampir tak lain karena jenis usaha ini dinilai sangat prospektif dan menguntungkan di banding bisnis yang lain. Pasalnya hampir banyak orang sekarang dan dimasa yang akan datang kebutuhan pulsa sudah menjadi kebutuhan utama. Disamping itu hal lainnya adalah voucher elektronik terbukti lebih murah, mudah, cepat didistribusikan serta memiliki variasi denominasi kecil yang lebih banyak dibandingkan voucher fisik. Sebagai distributor voucher elektronik, kata Rudy M. Alif, Hitam Putih memiliki dua keunggulan dibandingkan kompetitor lain.Pertama, Hitam Putih merupakan distributor pertama yang menciptakan counter pulsa dengan design outlet-nya yang sedemikian rupa dibuat sangat menarik, unik, dan praktis. Sehingga tidak perlu tempat yang permanen untuk counter dan biaya sewa yang biasanya mahal. Keunggulan kedua, Hitam Putih memberikan harga pulsa yang relative murah untuk semua item provider ( all operator ) dan dapat bersaing dengan yang lain. Sehingga akan memberikan keuntungan yang maksimal apabila dijual ke costumer ( end user ). Selain itu juga Hitam Putih membuka kesempatan untuk masyarakat yang mempunyai keinginan membuka bisnis voucher, diberikan kesempatan dengan adanya beberapa pilihan paket usaha sebagai Agen/Reseler, Dealer maupun Master Dealer. Informasi dan Kantor Pemasaran Hitam Putih Electronic Voucher Center wilayah Semarang dan Sekitarnya: Jl Jatingaleh II/298 Jatingaleh-Semarang 50261 telp (024) 70717038 atau 70717039. email: smg_hitamputih@yahoo.com Informasi tambahan: http://www.hitamputihcell.com/franchise.html http://lelaki.suaramerdeka.com/index.php?id=38 http://www.waralaba.com/hitamputih

Minggu, 02 Maret 2008

Bodoh Teriak Bodoh

Oleh : Toni Yoyo, STP, MM, MT
Dua orang Bos 'berlomba' menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, "Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini". "Baik Tuan". Dengan cepat Sono berlalu.

Bos A dengan senyum kemenangan, "Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya". "Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku", sahut Bos B. "Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini". "Segera Tuan" sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam 'pertandingan kebodohan' ini.

Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, "Ampun deh Bosku itu sangat tolol". "Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu", respon Sunu.

Tidak mau kalah Sono menyambung, "Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin itu ???". "Masa Bos tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka sehingga aku bisa membeli mobil BMW seri terbaru ?".

"Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir bahwa Bosmulah yang paling bodoh". "Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ?. Aneh sekali". "Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat ini?".

Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut.
Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang 'bodoh' yang teriak 'bodoh' seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka 'lebih bodoh'. Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' ini.

Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan 'kebodohan' sewaktu kita belum 'sepintar' saat ini ?

Bos A dan B juga termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' karena mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka walaupun pemberian 'cap bodoh' oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam konteks yang berbeda.

Kita perlu sering 'berkaca' dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial kemasyarakatan.
Pada akhirnya kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok 'bodoh teriak bodoh' dan bisa menjadi orang-orang yang 'pintar', yang tidak mudah memberikan klaim atau label (terutama 'bodoh') kepada orang lain.

Penulis : Toni Yoyo, STP, MM, MT (toni_yoyo@yahoo.com)

Sabtu, 01 Maret 2008

Gema Kehidupan

Seorang laki-laki dan anak laki-lakinya sedang berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba anaknya tersandung dan merasakan sakit yang pedih sehingga dia berteriak, "Ahhhhh"

Dengan terkejut, dia mendengar sebuah suara yang berasal dari gunung, "Ahhhhh."
Dipenuhi dengan rasa penasaran, dia berteriak; "Siapa kamu?", namun jawaban yang hanya dia dapatkan adalah: "Siapa kamu?"

Hal ini membuatnya marah, sehingga dia berteriak; "Kamu seorang pengecut"' dan suara yang menjawab adalah: "Kamu seorang pengecut!"

Dia memperhatikan ayahnya,"Apa yang sedang terjadi, Ayah?"

"Nak," Laki-laki tersebut menjawab, "perhatikanlah!" Kemudian dia berteriak, "Saya mengagumimu!"

Ada suara menjawab: "Saya mengagumimu!"

Ayahnya berteriak, "Kamu hebat!", dan suara tersebut menjawab: "Kamu hebat!"

Anak laki laki itu terkejut, namun masih belum memahami apa yang sedang terjadi.

Kemudian ayahnya menerangkan, "Manusia menyebut ini 'GEMA', namun sebenarnya itu adalah "KEHIDUPAN!" Kehidupan selalu mengembalikan apa yang kamu keluarkan!

Jika kamu menginginkan lebih banyak cinta,maka berilah lebih banyak cinta!
Jika kamu menginginkan lebih banyak kebaikan, maka berilah lebih banyak kebaikan!
Jika kamu menginginkan pemahaman dan penghormatan, maka berilah pemahaman dan penghormatan!

Jika kamu ingin orang lain bersabar dan hormat kepadamu,maka bersabar dan hormatilah mereka!

Aturan alam ini berlaku di setiap aspek kehidupanmu."

Kehidupan selalu mengembalikan apa yang kamu keluarkan. Kehidupanmu bukanlah sesuatu kebetulan, namun adalah sebuah cermin dari apa yang kamu lakukan.

http://pulsagrosiran.blogspot.com/2007/12/gema-kehidupan.html

Anak-anakmu…

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu


Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tidak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi


Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkan dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan


===========================
Oleh Kahlil Gibran
Buku ”Cinta Keindahan Kesunyian” hal
194-195

It’s NOT only About Money! (Part 2)

http://www.jamesgwee.com/articles.php?mode=2&id=18

It’s a fact that most people work for money. It cannot be denied that salary and financial compensation are important factors when choosing a job, and when choosing to stay or to leave.

It’s also a FACT that MONEY IS NOT EVERYTHING.

In Part 1 of “It’s NOT only About Money !” we discussed the difference between “Basic Factors” and “Motivational Factors” and concluded that for people to be motivated in their job, just having Basic Factors are not enough. There must be Motivational Factors. In Part 1, we described how to use Rewards to motivate our staff. We also described that just having rewards is not enough. The rewards must be presented in the correct way so that the employee who is rewarded feels honoured, appreciated and recognized.

In Part 2 of “It’s NOT only About Money !” we shall discuss what makes people stay and want to do a good job and what will cause them to leave.

Employees stay, leave, become motivated, become de-motivated for a combination of many, many different reasons and different people have different reasons at different stages of their lives So how do you find out what motivates your employees and what makes them want to continue to stay to do their job happily ? The answer may seem obvious and silly. But the simplest and most accurate way is to ASK THEM DIRECTLY !

What Questions To Ask Your Employees ?

To help you to get started, here are some simple but useful questions to ask your employees :
- Apa yang buat anda pertahan di sini ?
- Apa yang mungkin memikat anda pergi ?
- Apa yang paling menarik dari pekerjaan anda ?
- Apakah kami sepenuhnya mendayagunakan bakat anda ?
- Apa yang bias saya lakukan untuk membantu anda sebaik-baiknya ?


The above are just a sample of some questions that you may want to ask your employees. Obviously there are many more questions that you can ask them. It really depends on what you want to find out about them and about yourselves.

Here are some obvious benefits of asking these questions :

1. Just by asking these questions, your employee will know that you care, you are concerned with their well-being, they are important members of your team, they have an important role to play in the success of your team and that you want to give them as best as you can.

2. Your employees’ answers to these questions will give you very valuable insight about :
- What is really in their hearts and minds
- What is really important to them
- What really motivates them and what turns them off
- Whether or not you are making maximum use of their talent and potential
- How committed they are to the team
- Your management style
- Your people skills
- Your strengths and weaknesses as a manager


3. They are such simple and straight-forward questions, but how many of us actually ask our employees these questions ? Why don’t we ask them ?
- No need to ask because we assume we know the answer ? Are we paranormals ? Can we read people’s minds ?
- No time to ask these questions ?
- Can’t be bothered to ask because you really don’t care how they feel and think ? Yet you want them to perform their best ?


The Right Way To Ask The Questions

It is one thing to ask those questions. But it is another thing altogether to be able to get honest answers from our employees ! If we do not get honest answers from our employees, then the whole purpose of asking these questions is lost !

Different managers have different styles and different employees require different approaches. You choose which approach best suits you and your employees. Here are some ideas :

1. The Interview
You may want to invite your employee into your office for an informal chat. But make sure that your timing is right. Here are some examples of poor timing :
- When he is busy with his work
- When has other important things to think about/do
- When he is chasing a dateline
- He has to settle a problem with an angry customer, etc

The important thing is that you want to ensure that your employee is relaxed and is in the mood to have a conversation with you.

2. A “Chance” Conversation
Another way to ask these questions would be to invite your employee for lunch/diner/a drink , or just happen to meet him at the canteen. Then you can casually ask SOME of the above questions as part of an informal conversation. If your employee responds, then you may want to extend the conversation to include some of the other questions. If he seems uneasy, then you may change the subject and talk about less “sensitive” topics.


Here are some points to consider when you want to ask these questions :
- The reality is that you may not want to ask so many questions at one go. Asking so many direct questions may sometimes “frighten” your employee.
- You may have to re-phrase these questions so that they do not sound so direct
- You may want to slip these questions subtly in between your conversation so that they do not realize you are asking these questions
- If you and your employees are not used to talk at this “intimate” level, such questions may cause some easiness. They may be thinking :
Why are you suddenly asking such questions ?
Have they done something wrong ?
Are you planning to transfer them away ?
Are you asking these questions to decide the size of their bonus ?
Are you asking them these questions to decide whether they are qualified for the next promotion ?
Are you trying to dig some information from them about their other colleagues ?

So be aware of the sensitivities of your employees. Before you can expect them to open up, you have to directly or indirectly answer these questions in their head.

Whatever the considerations, if you want to know how to motivate your employee, what keeps him motivated, the reasons why he is staying on the job, what factors will cause him to leave, etc, one way or another you will have to ask him these questions.



You do not need to ask them these weekly - once every quarter is more than enough. Knowing what makes your employee tick will have a significant impact on your effectiveness as a manager and to enhance the overall performance of your team. Good luck !

====================================
To Invite Mr. James Gwee For In- House Training Please Contact Academia Education & Training at (021) 6011121 (HUNTING)or email us info@jamesgwee.com

It’s NOT only About Money!

http://www.jamesgwee.com/articles.php?mode=2&id=17

It’s a fact that most people work for money. It cannot be denied that salary and financial compensation are important factors when choosing a job, and when choosing to stay or to leave.

It’s also a FACT that MONEY IS NOT EVERYTHING.

What motivates an employee and what does not motivate him ?

Basic Factors
A decent basic salary and safe working environment are just BASIC factors that make people want to work in your company. Without these basic factors, people don’t even want to work for you ! So if you are a manager or a business owner, do not wrongly assume that just because you pay your employees a decent salary (UMR or slightly above UMR, or market rate), you expect them to be motivated. Wrong ! People are NOT MOTIVATED by basic salary ! A decent basic salary is NOT a motivational factor. It is only a basic factor.

Motivational Factors
If you hope for your employees to be motivated, you must give the following :
-Challenging work that allows people to expand their abilities
-An environment where people can learn
-An environment where people can enjoy the interaction between colleagues
-Recognition for their efforts
-An environment of respect and self respect


It is only when these factors are present in their work will employees be MOTIVATED. Otherwise, they will only be doing their job for a living, and nothing else.

Therefore, a manager must know the difference between Basic Factors and Motivational Factors. So in your workplace, are you only providing Basic Factors or Motivational Factors ?

An important Motivational Factor is Recognition for their effort. This can be in the form of a Reward or an Award. There are 1001 ways to show your employee that you appreciate his effort. Here are some common ideas :
-Financial incentive
-Prizes
-A day off
-A paid-for holiday trip
-An opportunity to park in the boss’s parking lot
-An opportunity to work from the boss’s office for 1 week
-Being introduced and having lunch with the CEO, etc

It Not Only WHAT You Give,
It’s Also About HOW You Give It !


People are suckers for celebration, ceremony and fanfare. So pay attention to HOW you give the award. Otherwise, all the effort is wasted and your employee does not feel that he truly deserves it, or that you really appreciate him. Here are some ideas to make sure that your employee REALLY FEELS appreciated and recognized when he receives the award.

1. Choose an appropriate person to give the award. The person who gives the award to the employee does not always have to be the CEO. Choose a person who is meaningful. Ideally, choose a person who knows the employee personally. One idea is to get the employee’s appreciative CUSTOMER to present award to him with a short speech of why he personally thinks this employee truly deserves the award. Can you imagine if the employee’s mother (or even grandfather) has been secretly invited to present the award to him on stage ! A truly touching and memorable experience ! Be creative when choosing the person who gives the award. Often, a little extra effort can have really significant effort.

2. The Presenter must know about the reward. The presenter must know the name of the award. He must know the objective behind giving the award. He must know the criteria for winning so that he has a clear understanding of how qualified/committed the winner is so that his short speech should reflect this appreciation and admiration. So if you are the person who is sometimes selected to give an award, please take it seriously. It may not mean much to you, but it could mean the whole world to the person receiving the award. Maybe he has been waiting his whole life for this moment on stage ! It is his moment of glory ! Take it seriously or ask someone else to do it cos you don’t deserve to give the award ! Sorry.

3. Invite their colleague to comment on the winner. It is a good idea for someone else to say something nice about the winner on stage, to everyone who is present. This is another form of recognition that shows that other people also appreciate his effort.

4. Give the winner a chance to comment. This is always a touching moment. The winner may not want to say anything, but it is always a good idea to offer him the opportunity anyway. You will be surprised at how he feels about this recognition that he has just received. However beware of those who would speak forever until he is “booed” off the stage ! So make sure that he is given a maximum of 3 minutes to speak.

Often, it is not the price of the prize. Often what makes it so significant, touching and memorable is the WAY in which the award is given. So give it sincerely. Your employee deserves it !

========================================

To Invite Mr. James Gwee For In- House Training Please Contact Academia Education & Training at (021) 6011121 (HUNTING)or email us info@jamesgwee.com

Jumat, 29 Februari 2008

Good To Great


Oleh : Ippho Santosa - Pembicara seminar, Produser Andalus, dan Penulis Qalbu Marketing

"Tulislah hukum-hukum. Tetapi, izinkan saya menulis lagu. Pastilah kelak saya akan memerintah negara Anda." Itulah pendapat Andrew Fletcher -seorang patriot Skotlandia- pada tahun 1702. Ucapan provokatif ini menjadi salah satu pemicu dan pemacu mengapa saya gemar menciptakan lagu. Sudah belasan lagu yang saya dan grup musik CELEBrand hasilkan. Ternyata, berdasarkan hasil survey, mayoritas responden memuji lagu kami. Kata mereka, sudah cukup oke.

Namun, bagi kami itu bukan jawaban yang memuaskan. Sebenarnya, kami mengharapkan responden berseru, "Wah, ini lagu yang luar biasa!" Berhubung tidak ada yang berkata begitu, maka lagu-lagu itu pun kami rombak. Bahkan, liriknya kami perkaya -tidak semata-mata berbahasa Indonesia dan Inggris- tetapi juga berbahasa Mandarin, Jepang dan Perancis. Itu semua kami tekuni selama kurang-lebih tujuh tahun, hanya semata-mata untuk mempersembahkan tembang yang great, bukan sekedar good.

Jim Collins di buku terlarisnya Good to Great sempat berujar, "Baik (good) adalah musuhnya hebat (great)." Artinya, apabila kita ingin hebat (great), maka kita tidak boleh merasa sudah cukup baik (good). Begitu kita merasa sudah cukup baik, biasanya kita akan enggan untuk memperbaiki diri. Dengan kata lain, merasa sudah cukup baik bisa meninabobokan kita, sehingga kita tak akan pernah menjadi hebat.

Tengoklah pelawak tenar Charlie Caplin dan megabintang Michael Jackson! Di masa keemasan mereka, Charlie dan Michael masih mau berlatih setiap hari! Betul-betul setiap hari! Luar biasa 'kan?

Hal ini juga diteladani oleh almarhum ayah saya, yang merupakan pemain badminton yang gigih semasa hidupnya. Ada atau tidak ada pertandingan, dia tetap saja berlatih secara konsisten dan telaten. Alasannya, demi prestasi yang lebih bagus. Baginya, tampil cukup baik (good) sama sekali tidak memadai. Di usianya yang sudah setengah abad, ia selalu berusaha untuk tampil hebat (great).

Apalagi ada kutipan yang mengingatkan, "Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung." Kalau sama saja? Dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk? Dia adalah orang yang celaka.

Ironisnya, betapa banyak perusahaan yang merasa dirinya 'baik-baik saja' dan malas beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi. Ketika disarankan program atau strategi yang baru yang lebih masuk akal, mereka buru-buru berdalih, "Hm, program itu bagus, sih. Tetapi -maaf- selama ini kita sudah diakui sebagai market leader, kok," atau, "Ah, kita tidak memerlukan program seperti itu. Kita 'kan sudah punya nama besar," atau, "Wah, kita agak berbeda, ya. Terus-terang, kita sudah cukup kuat kok, dengan dukungan dari pusat."

Hei, bolehkah berargumen seperti itu? Boleh-boleh saja, asalkan market Anda memenuhi dua kondisi. Pertama, pelanggan Anda begitu bodoh. Kedua, pesaing Anda berjalan di tempat. Namun adakah market seperti itu? Di planet ini, sepengetahuan saya, tidak ada!

Resapilah pesan resi manajemen Gede Prama, "Saat Anda merasa seperti mangga yang telah masak, maka sebentar lagi Anda akan membusuk! Jadilah mangga yang masih mentah, sehingga Anda senantiasa mematangkan diri." Coba saja baca buku BREAK! Rumus Marketing yang Belum Diajarkan di Kelas MBA, yang kebetulan direkomendasikan oleh guru kegagalan Billi Lim.

Pernah mendengar istilah kaizen 'kan? Sekedar mengulang, kaizen dalam bahasa Jepang bermaksud penyempurnaan terus-menerus (continuous improvement). Dan sejarah membuktikan, istilah inilah yang mengantarkan Jepang dari negara keterbelakang menjadi salah satu negara penentu di muka bumi ini.

Padahal, pada tahun 1600-an Jepang di bawah pemerintahan Shogun Tokugawa masih disibukkan dengan pengusiran warga asing dan pengisolasian negara selama 240 tahun ke depan. Sementara pada masa yang sama, masyarakat Amerika telah mengenal istilah 'pelanggan'. Bisa disebut, dari segi pengetahuan mengenai market, Jepang memang tertinggal jauh oleh Amerika. Begitu?

Dulu, memang seperti itu! Tetapi, di akhir abad 20 Jepang mulai berbenah. Dengan semangat kaizen-nya, tanpa tedeng aling-aling mereka pun mulai menohok Amerika. Terbukti, produk-produk dari Negeri Sakura layak disejajarkan dengan produk-produk dari Negeri Paman Sam.

Persis seperti yang ditegaskan motivator ternama Zig Ziglar, "Dengan selalu mempersembahkan usaha terbaik Anda, maka itu akan menjadikan Anda seorang pemenang." Bukankah pepatah Cina juga mengisyaratkan, tetesan air sekalipun -asalkan berterusan- dapat mengikis batu. Demikianlah, penyempurnaan tiada henti merupakan syarat mutlak untuk bertahta dan terus bertahta di market. Bercita-citalah untuk menjadi great, bukan sekedar good!

Ditulis oleh Ippho Santosa yang dikenal sebagai marketer, trainer dan penulis bestseller. Untuk konsultasi, SMS penulis 0812-704-9090.

Sepatu Si Bapak Tua

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=158185&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=213
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''
Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.
Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.
Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.
Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak: ''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu Engkau hanya memegangnya sebentar Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akanterbelenggu olehnya.Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengantanganmu seperti engkau menggenggam air.Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.
Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan SDM, penulis buku You Are A Leader!
faksimile: 021-7983623

Semangkuk bakmi panas

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesansemangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.

“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”


Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begituberterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.


Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

=================================================

RENUNGAN:
Bagaimanapun kita tidak boleh melupakan jasa orang tua kita.
Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja.
Tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah yang paling berharga yang diberikan kepada kita sejak lahir.
Pikirkanlah hal itu??
Apakah kita mau menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita?


Awalnya Selalu bukan Uang

Oleh: Rhenald Kasali

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.

KONTAN, Nomor 50/V Tanggal 10 September 2001

Life is beautiful

Sebuah cerita tentang hidup dari negeri India....

Saya pikir, hidup ini kayaknya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! 'Kerja menyebalkan', hidup tak berguna', dan nggak ada sesuatu yang beres!! banyak masalah...

Tapi semua itu berubah... sejak kemarin... Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!!!

Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, iamelihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!

Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong?

Ternyata tidak..!!! Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat..MENGEMIS...!! Ibu itu sengaja menyebabkan an aknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan !! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu... mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari.

Kemudian ia pun berangkatkembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!!

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $0,25!! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi,punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!!

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!!

Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR??? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??*

La in Syakartum la-aziidannakum
(jika kalian bersyukur ,niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS. 14 ; 7)

Wa maa bikummin nimatin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun
(Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu...)


PS. kita tidak akan pernah merasa cukup bila kita terus melihat keatas.

"*Life is Beautiful *"


Air Mata Mutiara...

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata,
"Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
=================================================
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".


Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".


Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.


Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.


Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar Anda. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hati Anda "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga........




Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua daan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu.
"Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.



http://www.geocities.com/big_bang_inspiration/index.htm?200829

Kamis, 28 Februari 2008

Pandailah Bersyukur

Allah menjanjikan bahwa orang yang tidak mau bersyukur, maka nikmatnya akan berubah menjadi adzab yang pedih, minimal akan hilang ketentraman di hatinya.

Misalkan hidung kita oleh Allah 'di setting' tidak begitu mancung, tapi kita membandingkannya dengan yang mancung-mancung. Saat becermin kan jadi tertekan, "Ini hidung atau kutil?" Padahal Allah yang menciptakan, pasti sarat dengan hikmah. Punya hidung mancung juga kalau ujub malah jadi pamer, dipotret jadi miring terus. Kalau tidak berusaha mensyukuri yang ada, punya apa saja nggak akan nikmat.

Misalnya ada gelas berisi air setengah. Kalau ahli syukur, "alhamdulillah masih ada setengahnya." Tapi yang kufur nikmat, "Hah! Tinggal setengahnya!" Ini nggak enak, itu nggak enak. Tentu saja Allah murka sehingga menutup pintu rezeki lainnya. Sebaliknya, kalau bersyukur, maka akan mengundang pintu-pintu nikmatlainnya.

Misalnya istri sedang ngidam, kita mencari mangga ke sana sini nggak ketemu. Tiba-tiba lewat tukang mangga. "Ya Allah Engkau mudahkan dia datang, tidak perlu bayar parkir dan bensin." "Berapa ini Bang?" tanya kita. "Enam ribu" kata abang penjual mangga. Lalu kita bilang "Sepuluh ribu, ya?" Nah, itu bersyukur.

Tapi kalau, "Dua ribu saja ya!?" Itu zalim, betapa sudah diberi kemudahan oleh Allah dengan didatangkan tukang penjual mangga yang dengan susah payah dia memikulnya, sudah berat, panas, masih ditawar pula oleh kita. Bukankah setiap kemudahan itu datangnya dari Allah. Kalau tidak bersyukur, maka itulah yang akan menimbulkan fitnah dan masalah. mq

Ubah Dulu Yang Di Dalam

http://www.cybermq.com/index.php?kolom/detail/3/378/kolom-378.html

Oleh : Andrie Wongso

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan untuk memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesannya melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak di pasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan. Apa daya, setelah diperbaiki hingga ke tiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!


Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu, setelah bertukar sapa dengan akrab dengan tuan rumah, tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?" "Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter obyek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan bu?" Tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.


"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya", si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.


Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.


Pembaca yang budiman,

Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita rubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.


Dengan merubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi diluar juga ikut berubah.


Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan dengan merubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima perubahan dengan cara merubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.


Salam sukses luar biasa!!!

Andrie Wongso

Memberi, Bukan Menerima

Kita harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Suatu ketika sepasang suami istri yang baru dikarunia seorang anak terlibat percakapan. Sang istri berkata, "Abi, alhamdulillah ya Allah mengabulkan doa kita. Sekarang kita sudah punya rumah sendiri, padahal sebelumnya Ummi sempat bertanya-tanya bisa nggak ya kita punya rumah?".
"Ya, kita harus bersyukur. Hidup kita selalu dimudahkan Allah," ujar sang suami mengamini. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi ingat bahwa rumah ini bukan milik kita, juga bukan milik anak kita. Semua ini hanyalah titipan Allah".

"Ya, saya ngerti. Tapi apa maksud Abi bahwa rumah ini bukan milik anak kita? Bukankah nanti akan diwariskan pada anak-anak kita?" tanya istri tersebut.
Suami itu menjawab, "Abi sangat tidak setuju bila kamu berpikiran seperti itu. Abi ingin rumah ini nanti dimiliki oleh mereka yang membutuhkan, anak-anak yatim atau orang yang tidak punya lainnya".
Dengan terkejut si istri menyela, "Lho, kok bisa begitu. Bagaimana dengan anak-anak kita?".

"Begini Ummi, kita harus menanamkan sikap mandiri dan mau berbagi kepada anak kita. Kalau dari sekarang kita sudah memanjakannya atau menjanjikan bahwa kalau sudah dewasa ia tak perlu susah-susah bikin rumah karena akan dapat "warisan", maka ia tidak akan mau bekerja keras apalagi berbagi. Kita harus menanamkan kepada dia bahwa rumah ini adalah milik umat, dia tidak berhak memilikinya. Karena itu, dia harus kaya, harus mampu membangun rumah sendiri, syukur-syukur mampu membangunkan rumah bagi orang lain. Sekali-kali jangan kita tanamkan kebiasaan meminta, tapi tanamkanlah kebiasaan memberi," ungkap si Abi dengan bersemangat.

Ada satu pelajaran penting dari kisah di atas, kita -- terutama yang telah berkeluarga -- harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan yang sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Paradigma berpikir seperti ini harus mulai kita tanamkan, baik dalam diri sendiri, pasangan hidup, maupun anak-anak. Ya, memberi -- apalagi bila dilandasi keikhlasan -- adalah perilaku yang teramat mulia. Bahkan, Rasulullah SAW memberi julukan "khairunnaas; manusia terbaik" kepada orang yang selalu memberi dan tak pernah menjadi beban bagi orang lain. Beliau bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain".

Konsekuensi dari paradigma ini adalah "sebelum kita dapat memberi, kita harus memiliki sesuatu untuk diberikan, dan untuk dapat memiliki sesuatu itu, kita harus mengusahakannya". Jadi ada rangkaian turunan dari paradigma memberi ini. Kita sulit untuk bersedekah (uang) bila kita tidak memiliki uang untuk disedekahkan. Untuk mendapatkan uang kita harus mengusahakannya. Kita pun sulit membagikan ilmu kepada banyak orang, bila kita tidak memiliki ilmu tersebut. Ilmu itu sendiri akan kita dapatkan bila kita mau berikhtiar mencarinya.

Demikianlah, saat kita menginginkan anak-anak kita menjadi manusia terbaik, yang lebih suka memberi daripada menerima, maka kita (orang tua) harus mengisi jiwanya dengan benih-benih kebaikan. Diharapkan benih-benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya bisa dinikmati banyak orang. Ketika orang tua menginginkan anaknya mampu beramal dengan ilmunya, maka orang tua harus menanamkan cinta ilmu kepadanya. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi seorang dermawan, maka bentuklah mereka sebagai seorang yang "pandai" mencari uang dan tidak pelit. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi penyebar kebaikan, maka isilah jiwanya dengan akhlak mulia.

Sekali lagi, semua ini tidak akan pernah mengena sebelum orang tua mengisi jiwanya terlebih dulu dengan nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain harus ada teladan, baik dalam pola pikir maupun dalam tindakan. Teladan ini teramat penting dalam keluarga, karena orang tua adalah model pertama dan utama bagi anak. Ketika Albert Schweitzer ditanya tentang bagaimana mengembangkan anak, dia menjawab: "Ada tiga prinsip. Pertama teladan. Kedua teladan. Dan ketiga teladan".


Makna Sebuah Doa

Suatu waktu ada sebuah pesawat tempur dengan 2 (dua) orang pilot yang sedang terbang di atas laut tiba-tiba saja mengalami kerusakan mesin. Secara cepat pilot kemudian berupaya mencari pulau terdekat untuk mendaratkan pesawat tersebut. Akhirnya dengan susah payah, pesawat tersebut berhasil mendarat di laut dan kedua pilot berenanglah menyelamatkan diri menuju pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Kedua pilot yang selamat tersebut tak tahu apa yang harus dilakukan karena seluruh peralatan yang ada telah rusak terendam air. Namun keduanya yakin dan percaya bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Allah. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling ‘makbul’ (dikabulkan), kemudian mereka sepakat untuk untuk saling berpisah menjauh menuju sisi-sisi pulau yang saling berseberangan.

Setelah beberapa hari menunggu di sisi-sisi pulau yang saling berjauhan dan menunggu bantuan atau tim penolong tiba, mereka mulai merasakan lapar dan haus yang amat sangat. Kemudian pilot pertama mulai berdoa agar ia diberikan makanan. Tanpa disangka keesokan harinya, begitu pilot pertama bangun ia telah mendapatkan sebuah pohon yang penuh dengan buah. Tetapi, nun jauh disisi pulau yang lain pilot kedua tidak merasakan hal tersebut.

Setelah mengetahui bahwa Allah maha mengabulkan, kemudian pilot pertama mulai berdoa memohon untuk diberikan makanan, pakaian, rumah dan segala macam yang ia butuhkan. Keesokan harinya, seperti ada keajaiban saja, maka semua yang ia minta telah tersedia dihadapnya. Sedangkan pilot yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, dengan sangat khusyu bercampur haru pilot pertama mulai berdoa agar ia diselamatkan dari pulau tersebut untuk dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Pagi harinya ia telah mendapatkan sebuah sampan tertambat di sisi pantai, lengkap dengan perbekalannya.

Segera saja pilot pertama segera naik ke atas sampan dan bersiap-siap berlayar untuk meninggalkan pulau tersebut. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan temannya (pilot kedua) di pulau tersebut.

Menurut pilot pertama, memang temannya tersebut (pilot kedua) tidak pantas menerima pemberian Allah, karena doa-doanya tidak pernah dikalbulkan. Begitu pilot pertama hendak berangkat, ia mendengar suara menggema dari langit. "Wahai pilot pertama, mengapa engkau tega meninggalkan temanmu di pulau ini?". Kemudian pilot pertama menjawab, "Berkah-Mu hanyalah untukku, ya Maha Agung, karena hanya doakulah yang Engkau kabulkan. Doa-doa temanku itu tidak pernah Engkau kabulkan, maka ia tidak pantas untuk mendapatkan apa-apa".

Kemudian pilot pertama kembali berujar, "Katakanlah ya Allah, doa macam apa yang ia panjatkan kepada-Mu, sehingga aku harus berbagi keberkahan dan ridho-Mu atas semua ini kepadanya?". Kemudian terdengar suara menggema, "Teman mu, hanya berdoa agar semua doa mu dikabulkan".

Moral Story :
Kesombongan dan keserakahan macam apakah yang menjadikan kita menganggap bahwa hanya doa-doa kita yang terkabulkan oleh-Nya?. Tak selayaknyakah kita mengabaikan peran orang lain, yang selalu dengan ikhlas berdoa untuk kesuksesan kita?


PRIMAL LEADERSHIP: Leading With Emotional Intellegence

Oleh: Antonio Dio Martin
"Because emotions are `contagious', particularly in a group in the workplace or in the government, emotions spread most powerfully from the leader outward, and a leader is in an optimal position to drive the emotional tenor." (Daniel Goleman)
Ada sebuah kisah kepemimpinan yang menarik. Sewaktu Alexanders Agung mencoba menaklukkan dunia, berkali-kali ia dan tentaranya harus melewati gurun pasir yang tandus dan gersang.
Suatu ketika, berhari-hari ia dan tentaranya berjalan melewati gurun dengan panas yang terik. Persediaan air mereka habis. Tentara kahausan dan beberapa diantaranya tak sanggup melanjutkan dan mati. Beberapa tentara mencoba berinisiatif mencari air, akhirnya dikumpulkanlah sisa air yang kurang lebih hanya ada secangkir.
Karena mencintai Alexander, mereka memberikannya kepada `Sang Agung' supaya tetap selamat. Ketika diberikannya kepada Alexander, air itu dibuangnya ke atas pasir. Lantas, Alexander Agung berkata, "Air ini tidak akan cukup untuk kita semua. Mari kita bersama lanjutkan perjalanan ini. Bersama-sama, kita akan melewati kesulitan ini".
Wow! Sebuah kepemimpinan yang –tidaklah mengherankan— menyebabkan anak buahnya rela `mati' bersama dengannya. Kualitas kepemimpinan seperti Alexander Agung inilah yang secara khusus kita kategorikan sebagai bentuk kepemimpinan yang disebut Primal Leadership. Istilah ini diinspirasikan dari buku best seller karya Daniel Goleman bersama dua rekannya, Richard Botayzis serta Annie McKee. Daniel Goleman.
Dalam buku tentang Primal Leadership ini, kembali Daniel Goleman mengangkat tema kepemimpinan yang memiliki "hati". Memang, dalam banyak ilustrasi antara "hati" dengan "otak" seringkali digambarkan sebagai burung dengan kedua sayapnya. Antara sayap "otak" dengan sayap "hati" dibutuhkan kerjasamanya agar seekor burung bisa terbang dengan seimbang.
Mengapa disebut sebagai "Primal Leadership"? Primal berasal dari kata "prima" atau utama. Dalam pola kepemimpinan Primal Leadership, hati dipercaya lebih banyak berpengaruh daripada otak atau logika. Sebagaimana dikatakan seorang pujangga Inggris, "Tanganmu tidak mampu meraih apa yang tidak diinginkan hatimu". Lagipula, kita menyaksikan bahwa banyak pemimpin diteladani, diikuti dan menjadi inspirasi oleh karena "hatinya" yang merakyat, mengerti dan mengayomi. Sebaliknya, para pemimpin yang cuma berkata-kata tetapi dalam hatinya tidak memiliki rasa solidaritas, keinginan memahami dan berbela rasa, akhirnya akan ditinggalkan.
Kisah Maria Antonnette dijaman revolusi Perancis adalah kisah seorang ratu yang hidupnya berakhir tragis. Saat dihukum pancung dengan pisau Gillottine, tidak ada satu rakyat Perancispun yang meratapinya karena selama ikut memerintah, ia dianggap sangat tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat dan tidak pernah peduli. Kita juga masih bisa mengingatkan berderet pemimpin yang berakhir dengan tragis karena keangkuhan, kesombongan, egoisme serta ketidakpeduliannya pada orang yang dipimpinnya.
Keangkuhan Musolini di Italia misalnya, akhirnya dibayar dengan hukuman gantung baginya. Rakyat, bawahan, pengikut, akan mendambakan memiliki seorang pemimpin yang mau mengerti dan berbela rasa kepada mereka.
Bangsa kita sendiri pernah memiliki pemimpin sejati seperti jendral Sudirman yang dalam kondisi sakit, masih tetap bergerilya. Para prajurit dan rakyat, mencintainya.
Kualitas dan kompetensi kepemimpinan yang memahami kondisi anak buahnya, seringkali disebut dengan kualitas kepemimpinan yang `beresonansi'. Kata `resonansi' sendiri, diambil dari istilah ilmu Fisika yang secara umum berarti, "ikut bergetar karena yang adanya sesuatu yang sedang bergetar". Idealnya, seorang pemimpin yang beresonansi adalah pemimpin yang dapat turut merasakan `getaran' perasaan, kepahitan serta jeritan "hati" anak buahnya.
Salah satu contoh cerita menarik adalah kisah di perusahaan SoundView saat masih dipimpin oleh Mark Loehr. Setelah kejadian tragis 11 September di WTC, banyak karyawannya yang berduka. Untuk itu, Mark Loehr secara khusus memberikan waktunya yang berharga untuk mendengarkan sharing perasaan karyawannya dan setiap malam jam 21.45, Mark Loehr mengirimkan email pribadi yang tujuannya memberikan dukungan moral bagi anak buahnya.
Dan untuk lebih konkritnya, Mark Loehr bahkan memutuskan untuk mengumpulkan profit perusahaan satu hari yang diperuntukkan bagi karyawan yang terkena musibah. Pada hari yang ditentukan tersebut, mereka bahkan berhasil mengumpulkan 6 juta dollar, padahal biasanya profit mereka cuma setengah atau 1 juta dollar saja! Para karyawan bahkan customer, begitu bersimpati dengan apa yang dilakukan oleh SoundView. Mengenai pemimpin yang demikian tersebut ini, Mark Loehr pernah mengatakan, "Dalam kondisi kritis, semua orang berpaling kepada pemimpin untuk mendapatkan support emosional. Pastikan, jika Anda seorang pemimpin, Anda memberikannya pada saat-saat kritis seperti itu".
Lantas, bagaimanakah membangun kompetensi Primal Leadership ini? Untuk membangun kompetensi kepemimpinan yang "Primal" ini ada beberapa tahapan yang penting. Terkait dengan EQ, ditekankan mengenai 4 tangga EQ menuju puncak Primal Leadership:
1. SELF AWARENESS
Tahapan ini merupakan elemen dasar bagi Kepemimpinan berdasarkan EQ. Penyadaran perasaan sendiri adalah kunci penyadaran bagi perasaan orang lain. McDonald, misalnya memiliki tradisi bahwa seorang pemimpin mestinya ikut merasakan menjadi janitor dan pembersih, dengan demikian ketika seseorang memimpin suatu cabang McDonald maka ia bisa turut merasakan bagaimana kesulitan, masalah dan beban pekerjaan seorang yang berada di level bawah seperti janitor. Disini kita melihat bahwa, kesadaran diri adalah awal bagi penyadaran keadaan orang lain. Banyak organisasi yang paham, bahwa untuk membangun seorang pemimpin yang baik, dibutuhkan pemimpin yang dapat memahami dan sadar dengan situasi anak buahnya. Tidak ada cara lain selain mencoba berlaku dalam posisi "anak buah itu sendiri". Seringkali dikatakan, seorang pemimpin yang mendapatkan kuasanya dengan cara mudah, tidak pernah turut menderita akhirnya akan mudah main perintah, seenaknya dan mudah memanipulasi diri yang seiring berjalannya waktu akan ditinggalkan oleh anak buahnya atau malah dilecehkan.
2. EMOTIONAL MANAGEMENT
Setelah menyadari, tugas seorang pemimpin adalah bagaimana ia mengontrol dan mengendalikan perasaannya. Ada saat-saat tertentu dimana seorang pemimpin akan mengalami banyak problem, kesulitan maupun stress akibat pekerjaan maupun akibat ulah anak buahnya. Pada saat-saat kritis dan sulit, seorang pemimpin ditantang untuk tetap berpikir jernih dan tidak kehilangan kendali atas emosinya. Seorang pemimpin akan kehilangan respek serta dicap dengan berbagai hal yang negatif tatkala kehilangan control atas emosinya. Mungkin masih segar dalam ingatan kita saat misalnya salah seorang Menteri dalam kabinet Megawati, kehilangan kontrol emosi dan mulai meledak-ledak dalam satu acara diskusi di suatu stasiun TV swasta. Bisa dibayangkan bagaimana image yang mungkin timbul atas Menteri ini pada jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikannya.
3. EMOTIONAL CONNECTION
Setelah sanggup mengendalikan dirinya, seorang pemimpin pun dituntut untuk mampu berelasi baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Berelasi berarti berinteraksi agar mampu menghasilkan suatu tindakan yang positif. Agar berhasil, seorang yang baik harus mampu berempati, tahu kapan harus melakukan persuasi maupun kapan harus memberikan dorongan serta lebih banyak mendengarkan orang lain. Salah satu contoh permasalahan yang menarik adalah kisah yang dikutip oleh Daniel Goleman mengenai kejadian yang pernah dialami oleh salah satu divisi siaran di BBC yang harus ditutup oleh manajemennya. Saat itu, salah seorang pemimpinnya, tatkala mengumumkan penutupan divisi tersebut justru membangga-banggakan divisi siaran perusahaan lain yang baru dikunjunginya dan bernada arogan. Akibatnya, justru karyawan BBC yang ditutup memberikan reaksi perlawanan dan ketidaksenangannya karena ulah pimpinan tersebut. Dalam hal berelasi dengan orang lain, seorang pemimpin memahami bahwa apapun kata-kata maupun tindakannya akan berdampak besar kepada bawahannya. Karena itu, seorang pemimpin dengan level emotional connection yang baik, tahu apa perbedaan antara ditakuti serta dihargai. Para pemimpin yang efektif ini, mengerti bahwa untuk dihargai, tidaklah selalu harus ditakuti. Mereka tidak khawatir menunjukkan persaaan-perasaan mereka, tetapi justru dengan demikian mereka dipuja, dihargai dan sekaligus dicintai. Herb Kelleher, mantan CEO Southwest Airlines yang terkenal `koboi' adalah contoh profil CEO dengan level emotional connection yang tinggi.
4. PERSONAL LEADERSHIP
Tahapan ini merupakan tahapan kepemimpinan berlandaskan emosional tertinggi dimana seorang pemimpin mulai menggerakkan anak buahnya, memimpin tim, memberdayagunakan sumber daya kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam personal leadership inilah terletak style kepemimpinan yang dibangun. Style kepemimpinan ini bisa beragam bentuknya. Akan tetapi apapun style yang ditampilkan, mereka tetap memiliki kedekatan emosi yang baik dengan bawahannya. Sebagai contohnya dari seorang Walt Disney yang visioner, Bill Gates yang style-nya blak-blakan serta Jack Welch dari GE, yang sering dicap otoriter, semuanya menunjukkan pengalaman dimana mereka memiliki kualitas perhatian serta kedekatan emosional dengan bawahannya secara mendalam.
Dengan demikian, kita melihat bahwa Primal Leadership bukanlah suatu style leadership tertentu, tetapi merupakan suatu persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap leader, apapun style yang diterapkan. Sebagaimana dikatakan oleh John Maxwell, maha guru "ledership" saat ini, "Satu-satunya cara seorang pemimpin membangun karisma adalah dengan mengambil hati bawahannya dan menaruhnya di level terdepan dalam hatinya".
Para pemimpin dengan jiwa kompetensi Primal Leadership ini, akhirnyalah yang sungguh akan dicintai. Ibarat perkawinan, dengan kemampuan seorang pemimpin untuk bisa merasakan apa yang dirasakan anak buahnya, mereka akhirnya akan tetap dicintai dalam kondisi suka maupun duka.
====================================================
Artikal ini saya dapat dari mailing list "PROGRAM KELAS KARYAWAN - UNIVERSITAS MERCU BUANA"