Kamis, 28 Februari 2008

Mengapa (Harus) Membatasi Karyawan Menggunakan Internet?

http://www.portalhr.com/kolom/2id130.html

Oleh: Meisia Chandra

Internet saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup sebagian orang. Sebagian besar perusahaan telah menyediakan fasilitas internet kepada karyawannya, yang tujuannya tentu saja untuk mendukung pekerjaan. Namun, dengan kekayaan yang bisa ditawarkan internet --mulai dari email, mailing list, chatting, belanja, berita, edukasi, hiburan, games, blogging, hingga perjudian dan pornografi-- muncul keraguan yang cukup beralasan, benarkah penggunaan internet di kantor hanya untuk tujuan pekerjaan?


HR Magazine edisi Desember 2007 melaporkan temuan IDC Research di Amerika bahwa 30 hingga 40% penggunaan internet di kantor tidak berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan, Websense Inc memperkirakan cost yang diderita setiap tahun karena hilangnya produktivitas itu mencapai 63 miliar dolar AS. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya menduga, kondisinya tidak jauh berbeda.


Karena berhubungan dengan produktivitas karyawan, sudah saatnya penggunaan internet menjadi perhatian HR. Apa yang bisa dilakukan HR dalam menyiasati hal ini? Pembatasan penggunaan internet adalah jawaban yang paling mudah. Dari pengamatan saya, itu pula yang banyak diterapkan oleh HR kita, atau lebih tepatnya oleh bagian IT, karena pengaturan penggunaan internet di perusahaan biasanya di bawah divisi IT.


Pembatasan penggunaan internet karyawan oleh IT biasanya didasarkan pada penghematan bandwith atau biaya koneksi internet yang harus dibayar oleh perusahaan. Yang dilakukan biasanya adalah pemblokiran situs-situs tertentu yang dianggap tidak ada hubungannya dengan pekerjaan seperti Friendster, Facebook, dan Blogger. Namun, benarkah membatasi penggunaan internet merupakan solusi cepat yang paling tepat?


HR Magazine menyarankan, daripada memblokir begitu saja akses internet, perusahaan bisa menggunakan beberapa software yang lebih pintar. Sekarang sudah ada software yang bisa membatasi waktu surfing karyawan per hari tidak lebih dari 30 menit untuk situs-situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Ada juga software yang hanya membolehkan karyawan mengakses situs-situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan di luar jam kerja. Selain itu, bisa juga perusahaan menerapkan akses internet yang customized, yaitu disesuaikan dengan bidang pekerjaan masing-masing. Misalnya, bagian accounting hanya mengakses situs-situs yang berhubungan dengan accounting saja.


Apa pun langkah yang Anda terapkan, yang jelas Anda harus mempunyai alasan yang tepat untuk menerapkannya. Apabila produktivitas yang menjadi masalahnya, maka harus diukur apakah dengan pembatasan penggunaan internet, produktivitas karyawan benar-benar meningkat. Saya mengenal banyak teman yang mempunyai akses internet secara bebas di kantornya tapi (tetap) sangat produktif. Bahkan, ada yang nyaris sama sekali tidak tergoda untuk berinternet-ria dan hanya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan. Dengan kata lain, tanpa dibatasi pun, seseorang yang memiliki banyak pekerjaan, tidak mungkin masih sempat melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya itu.


Sampai di sini, timbul pikiran dalam benak saya, jangan-jangan kantor-kantor yang membatasi penggunaan internet karena takut produktivitas karyawan turun, sebenarnya tidak mempunyai cukup (banyak) pekerjaan untuk karyawan mereka. Jika produktivitas yang dikhawatirkan, maka buatlah perangkat untuk mengukur produktivitas dan kinerja yang diharapkan. Jika produktivitas karyawan menurun, cobalah dicari penyebabnya. Belum tentu karena pemakaian internet. Dengan pembagian waktu dan pemberian target yang tepat, akan semakin sedikit peluang karyawan untuk menyalahgunakan penggunaan internet untuk kepentingan pribadi.


Pembatasan penggunaan internet belum tentu efektif meningkatkan produktivitas, malah bisa jadi menyebabkan produktivitas menurun.
Karyawan sebagai manusia yang berkehendak bebas cenderung tidak menyukai pembatasan.
Selain itu, pembatasan bisa diartikan, perusahaan tidak mempercayai karyawannya.
Sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab, karyawan bisa menentukan sendiri mana yang harus dan tidak harus dilakukan pada jam kerja.
Jika tujuannya penghematan (biaya koneksi) maka pembatasan tidak perlu berhubungan dengan situs tertentu, melainkan dengan penggunaan bandwith.


Jadi, apa pun langkah yang diusulkan HR kita, yang penting bukan karena ikut-ikutan atau karena kekhawatiran yang berlebihan. Usulan HR kita adalah usulan yang strategis untuk mendukung kemajuan bisnis.


(Penulis adalah pemimpin redaksi portalhr.com)

Etika Berbisnis Yang Berkah


1. Sedikit Untung Banyak Laku

Saudaraku yang budiman, bisnis yang berkah dapat diawali dengan sedikit untung banyak laku. Setiap orang tentunya ingin mendapat keuntungan. Artinya, dalam bisnis selain kita sebagai produsen, konsumen juga ingin meraih keuntungan. Karenanya, bisnis yang paling menguntungkan dalam Islam adalah bisnis yang membuat semakin banyak orang yang merasa diuntungkan.

Jikalau kita serakah karena ingin untung besar sendiri, maka jangan heran bila kerugian yang malah kita peroleh. Memang, bisa jadi pertamanya merasa untung, namun sesudah itu orang akan merasa terkecoh. Sehingga tidak ada yang ingin bertransaksi lagi dengannya. Tidak cuma itu, mereka pun bisa saja menyampaikan penyesalan dan keluhannya kepada orang lain sehingga kredibilitas kita semakin berkurang. Selanjutnya, kita tinggal menunggu waktu bangkrut saja.

Oleh karenanya, mari kita mulai menikmati keberuntungan orang lain sebagai satu keuntungan kita. Ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT dengan merasa nikmat jika kita melihat orang lain mendapatkan barang yang baik dengan harga yang murah.

2. Mudah dan Menyenangkan

Jangan pernah mempersulit dan memperumit orang lain ketika bertransaksi, padahal kita bisa dengan mudah menyelesaikannya. Percayalah, orang yang suka mempersulit orang lain hidupnya akan selalu dirundung kesulitan pula. Buatlah suasana yang mudah dan menyenangkan dalam setiap transaksi bisnis yang kita lakukan. Sehingga jadi atau tidak, transaksi yang dilakukan selalu meninggalkan kesan kebaikan yang tergambar pada kedua belah pihak.

3. Jujur

Kejujuran adalah harga mati yang harus dilakukan seseorang yang ingin usahanya berkah. Kejujuran adalah harga diri, kehormatan, dan kemuliaan bagi siapa pun yang berpegang teguh kepadanya. Sebaliknya, tipu daya, licik, bohong hanya untuk hancurkan kredibilitas perusahaan kita. Akibatnya, bukan kehormatan dan kemuliaan yang didapat, tetapi kehinaan dan kesengsaraan yang diraih.

4. Tepat Janji

Janji adalah utang. Tidak ada kata lain bagi yang ingin bisnisnya berkah, selain harus sekuat-kuatnya menepati janji, dalam sesulit dan serumit apapun kondisi yang sedang terjadi.

Karenanya, hitunglah dengan secermat-cermatnya setiap janji yang terucap, apakah memang benar kita mampu memenuhinya atau tidak? Lebih baik mengatakan tidak sanggup dari pada berjanji menyanggupi order padahal kita merasa tidak mungkin dapat menyelesaikannya. Akan tetapi, bila janji sudah terucap di bibir, berjuanglah sekuat-kuatnya untuk menunaikannya.

5. Amanah

Amanah adalah salah satu dari sifat-sifat mulia yang perlu diterapkan dalam transaksi bisnis yang kita lakukan. Tidak ada yang lebih terhormat dari sifat-sifat mulia lainnya, selain dari menunaikan amanah. Dikisahkan ketika Allah memberikan amanah kepada gunung, laut, pepohonan, dan makhluk lainnya, ternyata semuanya menolak. Akan tetapi ada makhluk Allah yang menerimanya, dialah manusia. Karenanya suatu kehormatan besar jikalau kita mampu menunaikan amanah yang kita terima, begitu pula dalam urusan bisnis.

6. Bertabur Zikir dan Doa

Lakukanlah aktivitas bisnis dengan tetap mengingat Allah. Dengan banyak berzikir kepada Allah, niscaya transaksi bisnis apa pun yang kita lakukan akan jauh lebih bermakna.
Tidak sekedar pertukaran uang dan barangsaja, tetapi ada yang lebih dari semua itu, yaitu aktivitas bisnis kita menjadi bagian dari zikir (pengingat) kepada Allah. Karenanya sangat dianjurkan bila mengawali suatu transaksi, ucapkanlah basmalah dan mengakhirinya dengan ucapan hamdalah.

Buah dari bertaburnya zikir dalam bisnis akan menjadi semacam rem dalam perilaku bisnis yang kita lakukan sehingga sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak akan ada kemaksiatan, kezaliman, dan aneka perbuatan mungkar lainnya.

Taburkan pula aneka macam bait doa. Yakinlah, doa adalah senjata orang beriman dan pengubah takdir.
Dengan doa kita bisa meminta takdir terbaik bagi diri dan bisnis yang kita lakukan karena hanya Dia-lah yang Maha Tahu siapa sebenarnya relasi bisnis kita dan kualitas yang ditransaksikannya. Doa akan membukakan jalan kemudahan, jalan pertolongan, dan jalan kebaikan kepada kita. Tentu saja bukan hanya doa dari pemilik perusahaan dan keluarganya, tetapi semua karyawan, keluarganya, dan siapapun yang berkaitan dengan lembaga bisnis kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa demi kemajuan perusahaan.

7. Sedekah Melimpah

Sedekah adalah penolak bala dan pelipat ganda rezeki. Karenanya bersedekah adalah hal yang sangat dianjurkan. Tentunya, setelah yang wajib-wajib, seperti zakat sudah ditunaikan.
Banyak lembaga sosial, pendidikan, dan pelayanan umat yang membutuhkan banyak bantuan dari yang memiliki harta berlebih. Tentu saja, tidak hanya pemilik perusahaan yang berzakat dan bersedekah, tetapi semua bagian yang terlibat dalam bisnis kita dianjurkan untuk melakukannnya. Dengan begitu, insya Allah bisnis kita akan lebih berkah.


From Hermawan Kartajaya book : " Aa Gym A Spiritual Marketer" hal 225-229.