Jumat, 29 Februari 2008

Good To Great


Oleh : Ippho Santosa - Pembicara seminar, Produser Andalus, dan Penulis Qalbu Marketing

"Tulislah hukum-hukum. Tetapi, izinkan saya menulis lagu. Pastilah kelak saya akan memerintah negara Anda." Itulah pendapat Andrew Fletcher -seorang patriot Skotlandia- pada tahun 1702. Ucapan provokatif ini menjadi salah satu pemicu dan pemacu mengapa saya gemar menciptakan lagu. Sudah belasan lagu yang saya dan grup musik CELEBrand hasilkan. Ternyata, berdasarkan hasil survey, mayoritas responden memuji lagu kami. Kata mereka, sudah cukup oke.

Namun, bagi kami itu bukan jawaban yang memuaskan. Sebenarnya, kami mengharapkan responden berseru, "Wah, ini lagu yang luar biasa!" Berhubung tidak ada yang berkata begitu, maka lagu-lagu itu pun kami rombak. Bahkan, liriknya kami perkaya -tidak semata-mata berbahasa Indonesia dan Inggris- tetapi juga berbahasa Mandarin, Jepang dan Perancis. Itu semua kami tekuni selama kurang-lebih tujuh tahun, hanya semata-mata untuk mempersembahkan tembang yang great, bukan sekedar good.

Jim Collins di buku terlarisnya Good to Great sempat berujar, "Baik (good) adalah musuhnya hebat (great)." Artinya, apabila kita ingin hebat (great), maka kita tidak boleh merasa sudah cukup baik (good). Begitu kita merasa sudah cukup baik, biasanya kita akan enggan untuk memperbaiki diri. Dengan kata lain, merasa sudah cukup baik bisa meninabobokan kita, sehingga kita tak akan pernah menjadi hebat.

Tengoklah pelawak tenar Charlie Caplin dan megabintang Michael Jackson! Di masa keemasan mereka, Charlie dan Michael masih mau berlatih setiap hari! Betul-betul setiap hari! Luar biasa 'kan?

Hal ini juga diteladani oleh almarhum ayah saya, yang merupakan pemain badminton yang gigih semasa hidupnya. Ada atau tidak ada pertandingan, dia tetap saja berlatih secara konsisten dan telaten. Alasannya, demi prestasi yang lebih bagus. Baginya, tampil cukup baik (good) sama sekali tidak memadai. Di usianya yang sudah setengah abad, ia selalu berusaha untuk tampil hebat (great).

Apalagi ada kutipan yang mengingatkan, "Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung." Kalau sama saja? Dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk? Dia adalah orang yang celaka.

Ironisnya, betapa banyak perusahaan yang merasa dirinya 'baik-baik saja' dan malas beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi. Ketika disarankan program atau strategi yang baru yang lebih masuk akal, mereka buru-buru berdalih, "Hm, program itu bagus, sih. Tetapi -maaf- selama ini kita sudah diakui sebagai market leader, kok," atau, "Ah, kita tidak memerlukan program seperti itu. Kita 'kan sudah punya nama besar," atau, "Wah, kita agak berbeda, ya. Terus-terang, kita sudah cukup kuat kok, dengan dukungan dari pusat."

Hei, bolehkah berargumen seperti itu? Boleh-boleh saja, asalkan market Anda memenuhi dua kondisi. Pertama, pelanggan Anda begitu bodoh. Kedua, pesaing Anda berjalan di tempat. Namun adakah market seperti itu? Di planet ini, sepengetahuan saya, tidak ada!

Resapilah pesan resi manajemen Gede Prama, "Saat Anda merasa seperti mangga yang telah masak, maka sebentar lagi Anda akan membusuk! Jadilah mangga yang masih mentah, sehingga Anda senantiasa mematangkan diri." Coba saja baca buku BREAK! Rumus Marketing yang Belum Diajarkan di Kelas MBA, yang kebetulan direkomendasikan oleh guru kegagalan Billi Lim.

Pernah mendengar istilah kaizen 'kan? Sekedar mengulang, kaizen dalam bahasa Jepang bermaksud penyempurnaan terus-menerus (continuous improvement). Dan sejarah membuktikan, istilah inilah yang mengantarkan Jepang dari negara keterbelakang menjadi salah satu negara penentu di muka bumi ini.

Padahal, pada tahun 1600-an Jepang di bawah pemerintahan Shogun Tokugawa masih disibukkan dengan pengusiran warga asing dan pengisolasian negara selama 240 tahun ke depan. Sementara pada masa yang sama, masyarakat Amerika telah mengenal istilah 'pelanggan'. Bisa disebut, dari segi pengetahuan mengenai market, Jepang memang tertinggal jauh oleh Amerika. Begitu?

Dulu, memang seperti itu! Tetapi, di akhir abad 20 Jepang mulai berbenah. Dengan semangat kaizen-nya, tanpa tedeng aling-aling mereka pun mulai menohok Amerika. Terbukti, produk-produk dari Negeri Sakura layak disejajarkan dengan produk-produk dari Negeri Paman Sam.

Persis seperti yang ditegaskan motivator ternama Zig Ziglar, "Dengan selalu mempersembahkan usaha terbaik Anda, maka itu akan menjadikan Anda seorang pemenang." Bukankah pepatah Cina juga mengisyaratkan, tetesan air sekalipun -asalkan berterusan- dapat mengikis batu. Demikianlah, penyempurnaan tiada henti merupakan syarat mutlak untuk bertahta dan terus bertahta di market. Bercita-citalah untuk menjadi great, bukan sekedar good!

Ditulis oleh Ippho Santosa yang dikenal sebagai marketer, trainer dan penulis bestseller. Untuk konsultasi, SMS penulis 0812-704-9090.

Sepatu Si Bapak Tua

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=158185&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=213
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''
Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.
Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.
Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.
Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak: ''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu Engkau hanya memegangnya sebentar Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akanterbelenggu olehnya.Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengantanganmu seperti engkau menggenggam air.Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.
Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan SDM, penulis buku You Are A Leader!
faksimile: 021-7983623