Selasa, 25 Maret 2008

HITAM PUTIH EVC

HITAM PUTIH ELECTRONIC VOUCHER CENTER HADIR DI SEMARANG Yang namanya telepon cellular kini bukan lagi barang mewah dan milik kalangan tertentu. Alat komunikasi yang satu ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Menyentuh segala lapisan sosial; kaya-miskin, kota-desa , tua-muda bahkan anak-anak. Menyadari posisi penting telpon selular yang demikian pegang peranan, terutama dalam mendukung dunia bisnis ataupun media komunikasi interpersonal, tentu saja tak akan berarti tanpa adanya PULSA sebagai ‘’napas’’ kehidupannya. Dan beruntunglah kalau saat ini tersedia relative banyak pilihan pulsa yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan operator cellular. Baik dengan cara berlangganan pasca bayar atau pun pra bayar memakai kartu Voucher. Pada awalnya muatan pulsa yang dikemas dalam bentuk kartu memang banyak dipilih. Selain bisa dibeli secara retail menurut jenis muatan yang dikehendaki, Voucher dalam bentuk kartu bisa dipakai kapan saja dan oleh siapa saja. Sehingga kesanya murah dan praktis. Namun dalam perkembangannya, kelebihan itulah yang justru menjadi kelemahan. Sebab, Voucher dalam bentuk kartu selain bisa hilang sehingga bisa dengan gampang dimanfaatkan oleh orang lain, pemakainnya juga memerlukan usaha khusus yakni menggosok, mengisi dan harus menunggu jawaban dari pihak operator yang bersangkutan untuk memastikan bahwa sejumlah pulsa yang diisikan dalam telepon telah diterima dan terhitung dengan baik. Hitam Putih Technologies Indonesia menawarkan pilihan lain yang relative lebih menguntungkan. Di samping juga meminimalisasi terjadinya resiko kerugian yang disebabkan oleh penggunaan Voucher kartu. Hitam Putih Elcetronic Voucher adalah perusahaan distributor Voucher elektronik untuk semua operator atau provider GSM dan CDMA di Indonesia. Dengan konsep ‘Easy Solution Concept’ perusahaan yang berkantor pusat di Semarang ini dengan cepat berkembang di Jawa Tengah. Salah satu alasan yang menurut Rudy M.Alif membuka usaha Voucher Electronic hampir tak lain karena jenis usaha ini dinilai sangat prospektif dan menguntungkan di banding bisnis yang lain. Pasalnya hampir banyak orang sekarang dan dimasa yang akan datang kebutuhan pulsa sudah menjadi kebutuhan utama. Disamping itu hal lainnya adalah voucher elektronik terbukti lebih murah, mudah, cepat didistribusikan serta memiliki variasi denominasi kecil yang lebih banyak dibandingkan voucher fisik. Sebagai distributor voucher elektronik, kata Rudy M. Alif, Hitam Putih memiliki dua keunggulan dibandingkan kompetitor lain.Pertama, Hitam Putih merupakan distributor pertama yang menciptakan counter pulsa dengan design outlet-nya yang sedemikian rupa dibuat sangat menarik, unik, dan praktis. Sehingga tidak perlu tempat yang permanen untuk counter dan biaya sewa yang biasanya mahal. Keunggulan kedua, Hitam Putih memberikan harga pulsa yang relative murah untuk semua item provider ( all operator ) dan dapat bersaing dengan yang lain. Sehingga akan memberikan keuntungan yang maksimal apabila dijual ke costumer ( end user ). Selain itu juga Hitam Putih membuka kesempatan untuk masyarakat yang mempunyai keinginan membuka bisnis voucher, diberikan kesempatan dengan adanya beberapa pilihan paket usaha sebagai Agen/Reseler, Dealer maupun Master Dealer. Informasi dan Kantor Pemasaran Hitam Putih Electronic Voucher Center wilayah Semarang dan Sekitarnya: Jl Jatingaleh II/298 Jatingaleh-Semarang 50261 telp (024) 70717038 atau 70717039. email: smg_hitamputih@yahoo.com Informasi tambahan: http://www.hitamputihcell.com/franchise.html http://lelaki.suaramerdeka.com/index.php?id=38 http://www.waralaba.com/hitamputih

Minggu, 02 Maret 2008

Bodoh Teriak Bodoh

Oleh : Toni Yoyo, STP, MM, MT
Dua orang Bos 'berlomba' menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, "Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini". "Baik Tuan". Dengan cepat Sono berlalu.

Bos A dengan senyum kemenangan, "Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya". "Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku", sahut Bos B. "Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini". "Segera Tuan" sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam 'pertandingan kebodohan' ini.

Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, "Ampun deh Bosku itu sangat tolol". "Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu", respon Sunu.

Tidak mau kalah Sono menyambung, "Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin itu ???". "Masa Bos tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka sehingga aku bisa membeli mobil BMW seri terbaru ?".

"Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir bahwa Bosmulah yang paling bodoh". "Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ?. Aneh sekali". "Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat ini?".

Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut.
Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang 'bodoh' yang teriak 'bodoh' seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka 'lebih bodoh'. Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' ini.

Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan 'kebodohan' sewaktu kita belum 'sepintar' saat ini ?

Bos A dan B juga termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' karena mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka walaupun pemberian 'cap bodoh' oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam konteks yang berbeda.

Kita perlu sering 'berkaca' dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial kemasyarakatan.
Pada akhirnya kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok 'bodoh teriak bodoh' dan bisa menjadi orang-orang yang 'pintar', yang tidak mudah memberikan klaim atau label (terutama 'bodoh') kepada orang lain.

Penulis : Toni Yoyo, STP, MM, MT (toni_yoyo@yahoo.com)